Kembali Menu
Gema.id
Ada Apa Denganmu Liverpool?

Ada Apa Denganmu Liverpool?

Ada Apa Denganmu Liverpool?

Jika seumpama Liga Inggris musim adalah perlombaan pacuan kuda, maka mereka para petaruh yang menyaksikan akan menjagokan enam tim untuk menjadi yang terdepan. Tentu saja, mereka adalah Liverpool, Manchester City, Manchester United, Chelsea, Tottenham Hotspur dan Arsenal, meski dua nama yang terakhir tidak terlalu diunggulkan tapi potensi menebar ancaman selalu mencuat.

Jelas Liverpool dan Manchester City akan menjadi unggulan teratas, dalam tiga musim terakhir mereka selalu konsisten berlari jadi yang tercepat. Namun seiring perjalanan satu persatu nama mereka dicomot, kini hanya Manchester City yang sangat diunggulkan, jelas, mereka jadi yang terdepan di saat kuda-kuda lainnya mulai kehabisan tenaga untuk mengejar. Fokus kini tertuju pada juara bertahan Liverpool. Bukan tanpa alasan, di sepanjang musim kemarin mereka berlari kencang dan tak terkejar hingga menyudahi puasa gelar Liga Premier mereka selama 30 tahun.

Apa yang sebenarnya yang terjadi pada pasukan The Reds, mungkinkah magis peramu taktik handal Jurgen Klopp tidak mampu lagi memperlihatkan sentuhannya. Dalam tiga laga terakhir mereka selalu tumbang, bermula dari kekalahan kandang oleh Burnley, berlanjut terkapar oleh Manchester City dan teraktual pada pekan ke-23 mereka takluk dari Leicester City, Sabtu (13/2) kemarin.

Apakah penyebab kekacauan-kekacauan ini. Mungkinkah karena badai cedera melanda para pilar penting? Apakah padatnya jadwal di sepak bola Britania ditambah mereka juga tampil di kompetisi Eropa? Virgil van Dijk dan Joe Gomez telah lama menepi, disusul Fabinho dan Joel Matip, lubang yang hingga sekarang belum mampu ditutupi, lalu mereka harus mendatangkan Ozan Kabak dari Schalke 04 untuk menambalnya. Namun kekalahan dari Leicester kemarin seakan memperlihatkan masalah yang lebih serius sebenarnya terjadi.

Roy Keane kini sebagai pandit menolak faktor cedera sebagai alasan. Kekacauan-kekacauan mulai terlihat saat seluruh tim masih dalam keadaan fit. Masih teringat pembataian 2-7 di Villa Park dari Aston Villa, Virgil van Dijk masih bermain. Persediaan pemain bertahan yang minim baginya juga sulit diterima mengingat Fabinho dan Henderson sering mengisi pos belakang.

Liverpool di bawah sentuhan Jurgen Klopp adalah tim yang saling terhubung, perubahan akan selalu berdampak di satu bagian mekanisme yang memiliki konsekuensi serius tempat lain. Untuk sisi yang memainkan permainan menekan yang intens dan canggih, mereka memainkan gaya terintegrasi yang kurang dinamis, atau yang kurang bergantung pada persiapan khusus untuk setiap pertandingan.

Sementara ada faktor lain yang lebih mendalam yang bekerja. Jurgen Klopp baru-baru ini mungkin menunjukkan rasa frustrasinya saat ditahan imbang di kandang Brighton Hove Albion 1-1 November lalu, semenjak itu Liverpool hanya menang lima kali dari 15 laga yang dijalani, dengan menyalahkan jadwal ketat dan mengklaim itu sang rival Manchester City sedikit diuntungkan. Pelatih yang menancapkan ideologi sepak bola Jermain di Britania juga beberapa kali terlibat psywar dengan pelatih rival seperti Chris Wilder, Jose Mourinho dan Sean Dyche.

Jauh diperhatikan, sebenarnya Liverpool sebelum liga dimulai kembali setelah jeda, tim ini sepertinya sudah tergores tetapi mereka telah memenagkan liga, itu cukup bisa dimengerti. Musim ini, harus diingat bahwa kekalahan 7-2 di Aston Villa terjadi sebelum van Dijk cedera. Tidak semua alasan valid, seperti apa yang dikatakan Keane, tetapi Liverpool sekarang belum dalam kondisi terbaiknya selama lebih dari setahun sekarang.

Ini mungkin hanya kelelahan—mental maupun fisik. Bagaimanapun, ini adalah tim yang mendekati puncak selama tiga tahun: final Liga Champions, kemenangan Liga Champions, gelar liga pertama dalam 30 tahun. Inti dari tim tidak berubah pada saat itu: jika, dalam menghadapi kesulitan. Pepatah Bela Guttman bahwa “tahun ketiga fatal” biasanya dialami para manajer, tetapi bisa juga untuk para pemain.

Klopp mungkin menyadari hal ini ketika mendatangkan Thiago Alcantara. Ada kritik bahwa dia memperlambat permainan, tetapi itulah intinya: membantu Liverpool melindungi penguasaan bola dan memenangkan pertandingan tanpa bermain terus-menerus dengan kecepatan penuh. Integrasi menjadi rumit, meskipun, dengan fakta bahwa dia terus bermain di lini tengah yang pincang. Hanya sekali musim ini dia memulai bermain bersama Henderson dan Fabinho di lini tengah- dan itu adalah pertandingan menentukan di Everton di mana van Dijk cedera.

Jika sebuah tim tidak berubah terlalu lama, lawan akan terbiasa dengan mereka dan kebosanan 4-3-3 hampir konstan, dan Klopp telah menyesuaikan tekanannya jauh lebih dari sedikit daripada, katakanlah Pep Guardiola. Dan itu berhasil seperti saat melawan Tottenham, hasilnya masih bisa mengesankan, tetapi hari belakangan ini menunjukkan kelelahan tentang mereka.

Sebagai sebuah penelitian di Atheletic pekan lalu mencatat meskipun terkena badai cedera, tujuh pemain Liverpool masih memainkan 80% atau lebih dari musim ini. Yang lebih memprihatinkan mungkin adalah fakta bahwa berdasarkan menit yang dimainkan, ini adalah skuad tertua dalam sejarah Liga Premier Liverpool.

Roberto Firmino berusia 29 tahun di bulan Oktober. Sadio Mane akan berusia 29 tahun pada bulan April dan Mohammed Salah pada bulan Juni. Secara Individu tidak ada yang memprihatinkan, tetapi menjadi tua bersama-sama adalah kekhawatiran, terutama ketika ini adalah musim keempat bersama. Takumi Minamino adalah upaya untuk menyegarakannya tetapi, untuk alasan apa pun dia tidak berhasil lalu terlempar ke Southampon sementara Diogo Jota yang telah menambahkan kehidupan baru, telah cedera sejak awal Desember.

Liverpool tidak beruntung dengan cedera tetapi kemalangan itu telah menyoroti masalah mendasar dengan skuad yang mungkin baru saja melewati puncaknya.