Gema.id
Apa yang Dipelajari dalam Taktik Sepakbola Usai Liverpool Juara Liga Inggris

Apa yang Dipelajari dalam Taktik Sepakbola Usai Liverpool Juara Liga Inggris

Gema.id – Tidak ada yang bisa membantah Liverpool musim ini begitu superior atas pesaingnya, mereka akhirnya berhasil meraih gelar Liga Inggris untuk pertama kalinya setelah salama 30 tahun menunggu. Pesaing terdekat mereka adalah Manchester City yang merupakan juara pada musim sebelumnya, kini harus berada di urutan kedua di papan klasemen akhir.

Keunggulan utama Liverpool atas Manchester City adalah kemampuan mereka untuk mengatur serangan dengan lebih baik dan mengelola transisi permainan.

Musim ini menjadi semakin jelas bahwa pada level elit, dua atribut memisahkan dua manajer terbaik Jurgen Klopp dan Pep Guardiola adalah kapasitas mereka untuk mengelola transisi dari menyerang ke bertahan, dan kemampuan mereka untuk mengatur serangan. Namun, Jurgen Klopp telah unggul kedua-duanya dalam mengelola transisi dibandingkan dengan pasukan The Citizen Pep Guardiola.

Meski sama-sama produktif dalam mencetak gol, di mana Moh Salah dan rekan-rekannya telah sebanyak 85 kali merobek jala lawan sementara, Raheem Sterling dan pasukan Manchester Biru total sebanyak 102 kali mencetak gol namun, pasukan Pep Guardiola tidak mampu melindungi gawang mereka dari jumlah kebobolan yang lebih banyak meski unggul soal produktifitas.

Tentu saja, di sini para punggawa memainkan peran mereka. City tidak menemukan pengganti Vincent Kompany pada sosok John Stones dan Nicolas Otamendi. Diperparah cedera Aymeric Laporte menjadi masalah utama. Yang kemudian memaksa Fernandinho turun ke belakang yang mana berposisi asli sebagai gelandang bertahan. Tetapi asumsi juga mengatakan kini filosofi sepakbola Guardiola telah dibaca secara keseluruhan, terlalu sederhana untuk mengatakan bahwa ia sedang bereksperimen.

Sebagai kejutan awal gaya Guardiolalista telah menghilang selama sedekade terakhir, sehingga kerentanan telah terpapar ke tingkat yang lebih besar. Kini evolusi taktik Pep berubah, setiap pihak sekarang tahu bahwa hampir semua bola dari belakang (build-up) tim besutan Guardiola berpotensi amat berbahaya. Maka pressing yang tinggi adalah solusi bagi tim lawan untuk meladeni permainan Guardiola, tetapi hal ini sangat jarang terlihat di sisi Liverpool ketika diekspos dengan cara itu dan hal ini adalah sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan mudah oleh keunggulan Virgil van Dijk. Semua ini berkaitan dengan organisasi, energi pressing dan terutama mengetahui kapan harus turun bertahan.

Gegenpressing sering dianggap sebagai alat penyerangan–-Klopp sendiri menyebutnya sebagai playmaker terbaik di dunia—tetapi juga memiliki fungsi vital, terutama berhadapan dengan lawan yang mengadalkan serangan balik.

Dalam sepak modern kini, organisasi tim menjadi kunci dalam menghadapi situasi apapun dalam sebuah pertandingan, apa yang kemudian disebut oleh Jonathan Wilson sebagai “untaian kunci” di mana otomatisasi dan mempercepat pertukaran menjadi senjata ampuh dalam upaya memenangkan sebuah pertandingan.

Klopp dan Guardiola selalu mencoba permutasi ini sehingga punggawa mereka dapat dikerahkan ketika situasinya tepat, melakukan otomatisasi dan mempercepat pertukaran. Maka jangan heran ketika melihat Roberto Firmino turun meninggalkan areanya untuk mendistribusikan bola di lini tengah, sementara Kevin De Bruyne berada di sisi penyerangan meninggalkan pos nya di lini tengah.

Jose Mourinho mengganggap sepakbola dengan gerakan yang acak diatur sebelumnya tidak ada gunanya; dia lebih memilih menanamkan pola pikir pada pemainnya yang memungkinkan mereka untuk membuat keputusan yang tepat dalam situasi apa pun dalam permainan. Mengatakan suatu pendekatan itu benar dan satu kesalahan terasa reduktif, tetapi yang jelas bahwa organisasi penyerangan menjadi semakin penting dalam membedakan yang terbaik dari yang lain.

Dua atribut, mengendalikan transisi dari serangan ke bertahan lalu mengatur serangan, dapat digunakan sebagai hipotesa sederhana bagi para manajer. Klopp unggul keduanya. Guardiola mungkin bahkan lebih baik dalam organisasi serangan tetapi telah berjuang musim ini dengan mengelola transisi menyerang ke pertahanan. Frank Lampard banyak memiliki kemajuan, tetapi Chelsea telah kebobolan lebih banyak gol daripada tim atas lainnya di Liga Inggris  musim ini. Hasil terbaik didapatkan Manchester United, punggawa Ole Gunnar Solskjaer semuanya bermain setelah liga jeda, organsisasi serangan ke bertahan adalah masalah yang jelas.

Meski Mourinho, Brendan Rodgers dan Nuno Espirito Santo di Wolves mempunyai cara menghentikan jeda lawan dengan serangan statis yang mungkin merupakan akibat dari kemampuan individualistik pemain. Mourinho sama sekali tidak percaya akan hal itu, sesuatu dia kritik saat di Madrid.

Musim ini telah berakhir dan telah melahirkan juara. Sementara evolusi taktik di sepakbola akan terus berkembang meski masih ada yang bertahan pada prinsip lama namun dalam dunia sepakbola sekarang ini organisasi serangan terhadap pertahanan dan mengatur serangan dengan sebaik-baiknya menjadi dua aspek terpenting bagi seorang manajer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *