Kembali Menu
Gema.id
Boikot Unilever – Gerakan Katro Bocah Ingusan yang Kalah Main Kelereng

Boikot Unilever – Gerakan Katro Bocah Ingusan yang Kalah Main Kelereng

Opini
Boikot Unilever – Gerakan Katro Bocah Ingusan yang Kalah Main Kelereng

Unilever internasional dan PT Unilever Indonesia baru-baru ini secara resmi menkorfimasi dirinya sebagai pendukung LBGTQ+ atau Lesbian, Guy, Biseks, Transgender dan Querr.

Pernyataan tersebut terkonfirmasi melalui akun Twitter Unilever Internasional yang mendukung para LBGTQ+ yang ada di Amsterdam, Belanda dan menyatakan sikap bahwa perusahaan mereka tidak menutup diri untuk menerima penganut gerakan LGBTQ+ untuk bergabung di perusahaannya.

Tweet tersebut diperkuat dengan tambahan logo Unilever yang diberi warna dengan fill Gradasi Pelangi 7 Warna yang menjadi simbol perjuangan gerakan LGBT.

Sudah barang tentu hal tersebut memantik reaksi juga di Indonesia sebagai salah satu negara dengan pasar terbesar dari produk-produk Unilever, bahkan mungkin saja tidak satupun keluarga di Republik Indonesia yang didarahnya tidak “mengalir” produk-produk Unilever. Mulai dari cemilan eskrim walls sampai seluruh kebutuhan ibu-ibu di dapur.

Dan tanpa perlu panjang lebar kita bakalan tahu kebiasaan warga negara Indonesia ketika sedang “membenci” suatu produk, kita pasti sama-sama menebak seruan boikot akan memenuhi beranda media sosial.

Seruan lantang yang menggelegar tidak jauh ubahnya dengan tong koson yan bunyinya nyaring, diketok dengan besi hingga semua warga terbangun lalu ditinggal begitu saja oleh warga karena cuman bisa bikin bising kuping saja.

Hampir-hampir tidak pernah ada solusi lain yang diajukan oleh warga negara yang sudah merdeka 74 tahun, selain gerakan Boikot yang lebih terlihat katro. Gerakan yang sama halnya dilakukan anak-anak ingusan di kompleks saya ketika saya terlalu kuat dalam bermain kelereng.

Teringat teman-teman kecil saya yang melarang saya ikut bermain kelereng bersama mereka karena jarang kalah dan nyaris menang banyak setiap kali ikut bermain. Akhirnya mereka sama-sama sepakat untuk mem-boikot dari permaian gundu ini, namun mereka lupa satu hal. Peredaran utama kelereng di kompleks 80% ada di kantongku.

Mereka punya hanya dua pilihan, tetap bermain kelereng tapi harus beli dari mamang-mamang disekolah yang harganya lebih mahal, atau melupakan gerakan Boikot mereka lalu membeli kelereng dari saya yang harganya hampir 1/10 harga dari mamang-mamang tersebut.

Adasih pilihan lainnya, jika tidak memilih keduanya, yakni membuat kelereng mereka sendiri dan saya sangat sadar mereka terlalu ingusan untuk membuat kelereng sendiri.

Jadi seperti yang diketahui bersama, diantara pilihan-pilihan tersebut, mereka akan segera melupakan kebencian mereka ke saya dan kembali lagi bermain bersama. Walau ujung-ujungnya kembali mereka harus menelan pil pahit karena uang jajan mereka harus habis di kantong saya. Yah hukuman paling manis untuk mereka yang cuman bisa protes tapi tidak bisa apa-apa.

Seperti cerita masa kecil saya yang di Boikot teman-teman bocah saya, sepertinya kita tidak bakalan jauh-jauh dari lebel anak ingusan di atas jika tidak punya solusi selain kata Boikot, sementara di dapur-dapur kita sudah terkubur dengan produk-Produk Unilever.

Pilihannya ada dua, yakni beli produk lain yang kualitas dan harganya kalah jauh dari Unilever atau mari membuat pabrik shampo, sabun, eskrim, detergen, perembersih lantai, pasta gigi, dalam sekejap waktu atau mari jadi bangsa munafik, teriak boikot tapi produknya masih jalan terus.

Belajarlah Boikot dari Aseng China

Sebenarnya boikot bukanlah gerakan yang buruk, jika dilakukan oleh orang yang tepat. Sebut saja tokoh pejuang kemerdekaan India, Mahatma Gandhi yang memperkenalkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara yang mandiri, meskipun belum bisa mengepulkan asap dari pabrik untuk membuat kain, mereka akan duduk bersama untuk memutar roda gigi dengan tangan untuk memintal benang menjadi kain.

Cukup sederhana memang hasilnya, kain putih yang lebih mirip kafan itu dengan bangganya dipakai di setiap ajang internasional, tapi mereka bangga. Bukan dengan gerakan Boikot produk Inggris tapi cuman bisa nyinyir khas ibu-ibu komplek yang protes sate-nya tidak enak pas arisan, tapi 20 tusuk masih kurang itu buat diicip.

Tapi gerakan Mahatma Gandhi itu sudah lama sekali terjadi puluhan tahun lalu, jika kita mau belajar gerakan Boikot ter-Update, mungkin China menjadi guru yang baik.

Gerakan Boikot produk Amerika dari mereka bukan isapan jempol semata, tapi sungguh-sungguh membuat yang di Boikot meradang. Mari kita ambil contoh kecilnya ketika mereka tidak ingin WA merajai pasar China, orang-orang kreatif mereka sudah membua We-Chat yang nyaris sama tangguhnya.

Hebatnya lagi mereka bahkan berhasil menyasar pasar dari Sosial Media Amerika yang sudah lebih dulu naik tahta, yakni Instagram. Mereka tidak ingin selebgram mereka memperkaya kantong dari Mark Zukerberg mereka-pun membuat platform sejenis dengan sedikit modifikasi, yakni Tik Tok.

Tidak usah tanya hasilnya, mungkin anak atau sadaura kita sudah menjadi salah satu content creator sambil nunjukin goyangan mama muda yang aduhai. Dicaci gak ada ahlak oleh netizen, tapi menikmati setiap lekukan tubuh remaja-remaja putri saat menari dengan back sound yang tidak kalah Yumminya.

Boikot level Aseng China bahkan berhasil memantik Amerika untuk melarang penggunaan OS Adroid di Smartphone Huawei, perusahaan China yang berhasil menjadi Pioner di jaringan 5G. Di tekan malah melawan, ini harusnya kesombongan yang harus ditunjukkan oleh para Boiko-ter mania.

Pasca dilarang menggunakan OS Android di perangkat mereka, Huawei malah mengancam balik Trump dan seluruh penduduk Amerika dengan OS Hongmeng yang pasarnya jauh lebih subur di Eropa. Hasilnya Donal Trump harus gigit jari dan mengakui bahwa mereka layak menjadi pesaing baru Amerika di bidang Ekonomi.

Lantas bagaimana dengan seruan kita memboikot Unilever? Apakah kita sudah bisa membuat produk dengan kualitas dan harga yang sama dengan sistem distribusi yang merata secara nasional? Atau malah membuat pakaian, lantai, tubuh, rambut, dan piring kita menumpuk kotor di dapur?

Kalau tidak demikian saya malah curiga dengan gerakan Boikotnya, jangan sampai hanya boikot pada level jari di Medsos semata. Tapi saya juga agak salah sih, meminta Boikot-er mania ini untuk belajar di China, karena China juga salah satu negara yang hari ini sedang seru-serunya di Boikot.

Atau malah solusi sementara yang terbaik dari unilever ini adalah Boikot tulisan ini? Karena penulisnya tidak berada di sisi boikot Unilever maka otomatis penulis masuk di golongan seberang, apalagi kalau bukan pendukung LGBTQ+.

Sayangnya hidup sepertinya tidak se-dikotomus itu.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *