Kembali Menu Beranda
Bitter
Investasi Besar-besaran Manchester City kembali Gagal Menaklukkan Eropa

Investasi Besar-besaran Manchester City kembali Gagal Menaklukkan Eropa

Investasi Besar-besaran Manchester City kembali Gagal Menaklukkan Eropa

Gema.id – Untuk kesekian kalinya klub kaya raya Manchester City kembali gagal menaklukkan Eropa, mereka lagi-lagi gagal meraih Liga Champion musim ini. Mereka tersingkir lebih awal di babak perempat final usai dipermalukan wakil Prancis Lyon. Di luar perkiraan mereka kandas dengan kekalahan yang cukup mengejutkan 3-1 saat mereka sedang diunggulkan menang.

Sementara itu sang manajer Pep Guardiola yang sangat dikagumi menyoal urusan mengarsiteki sebuah tim terakhir kali memenangkan Liga Champion pada tahun 2011. Kedatangan Guardiola awalnya adalah jawaban atas rasa penasaran Manchester City untuk pertama kalinya memenangkan ajang paling bergengsi di kompetisi Eropa tersebut.

Gelontaran dana besar dari sang pemilik Sheikh Mansour semenjak membeli klub tak cukup hanya dengan memenangkan gelar liga domestik saja, Manchester Ciy harus menaklukkan Eropa untuk bergabung pada jajaran elit.

Banyak pemain mahal dan berlabel bintang didatangkan untuk mengisi skuad Manchester City namun itu belum cukup, mereka paling jauh melangkah hingga babak semifinal Liga Champions di tahun 2016. Sementara ditangani Pep Guardiola, seorang pelatih yang pernah mencapai keabadian sepak bola bersama Barcelona, hal sama belum sanggup lagi digapai.

Pep Guardiola disokong dana besar untuk membangun proyek Manchester City menaklukkan Eropa meski  terlihat boros, tetapi hasilnya tetap saja nihil.

Terlepas dari dalih “ketidakberuntungan” sesuatu yang mereka dapatkan saat berhadapan dengan Lyon, banyak sesuatu yang tidak tereksekusi dengan sempurna.

Dimulai dari kegagalan tendangan voli Gabriel Jesus, kegagalan Raheem Sterling mengkonversi peluang yang 99,9% menjadi gol hingga terpelesetnya Aymeric Laporte berujung gol untuk lawan disebut-sebut momen-momen kesialan bagi Manchester City. Terdengar klise di dalam sepak bola, mencari kambing hitam atas derita kekalahan adalah hal yang lumrah terjadi.

Si jenius taktik Guardiola tentu menjadi orang yang bertanggung jawab atas kegalalan Manchester City sebagai manajer. Guardiola sekali lagi, menyimpang dari formula biasanya pada pertandingan penting di Eropa dan memaksakan sesuatu yang jarang  terlihat dari ciri khas timnya.

Guardiola menjadi tersiksa atas kejeniusannya, kata peribahasa Yunani –seorang pahlawan tidak hanya dapat melarikan diri dari takdirnya tetapi ia juga dapat merekayasa keadaan. Hal itu yang terlihat pada tim Guardiola di laga-laga krusial, melakukan eksperimen yang justu berujung malapetaka. Kecenderungan berpikir berlebihan nampaknya telah berkembang.

Baca Juga: Revolusi Pep Guardiola: Endgame?

Menghadapi Lyon yang menyelesaikan Liga Prancis  di posisi tujuh klasemen, Guardiola memulai dengan 3-5-2,  menurunkan tiga bek plus dua gelandang bertahan? Menggunakan footer kanan di bek sayap kiri. Hal yang tidak berjalan efektif dengan memilih Ilkay Gundogan daripada opsi memasukkan Bernardo Silva, David Silva dan Phil Foden pemain muda yang sepanjang musim di Liga Inggris tampil memukau.

Dan yang paling membingungkan adalah keengganan untuk berubah, seolah Guardiola terlihat membeku dan tetap menaruh Mendy dan Foden di bangku cadangan. Riyad Mahrez dan David Silva dimasukkan terlambat saat di mana City harus mengejar, yang terlihat justru serangkaian kesalahan-kesalahan fatal.

Manchester City pada akhirnya terdepak, kekalahan dari Lyon melahirkan kekecewaan mendalam bagi Guardiola, di dua babak perempat final sebelumnya bersama City, ia tersingkir dari Liverpool dan Tottenham  Hotspur yang notabene klub unggulan.

Pep Guardiola keluar lebih awal lagi, proyek besar untuk memenangkan Liga Champions dengan suntikkan dana melimpah tidak terealisasi. Guardiola mungkin masih diberi kesempatan dan akan terus disokong dana segar lagi untuk mewujudkan hal itu, namun di era sepakbola sekarang yang menuntut hasil instan, kesabaran ada batasnya juga.