Kembali Menu
Gema.id Jabar
Krisis Pandemi Membuat Jawa Barat Mengalami PHK Massal

Krisis Pandemi Membuat Jawa Barat Mengalami PHK Massal

Krisis Pandemi Membuat Jawa Barat Mengalami PHK Massal

Pandemi Covid-19 telah menyebabkan gangguan bisnis yang belum pernah dirasakan sebelumnya, hal ini membuat ribuan karyawan harus mengalami nasib PHK kerja.

Tempo.co merilis pada Senin (2/11) sebanyak 19.089 karyawan di Jawa Barat kehilangan pekerjaan akibat krisis karena Covid-19

Hal tersebut lalu diungkapkan langsung oleh Gubernur Jawa Barat Ridwal Kamil mengatakan bahwa lebih dari 2.000 perusahaan telah merasakan dampak pandemi ini, dua industri paling berimbas adalah perusahaan manufaktur dan jasa.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar Rachmat Taufik Garsadi mengatakan, hingga Oktober sebanyak 460 perusahaan telah resmi memangkas tenaga kerja yang mereka pekerjakan. Ia menambahkan, masih banyak perusahaan yang berencana memangkas jumlah pekerjanya.

Rachmat mengatakan pihaknya telah mengkonfirmasi data tersebut ke Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja (BPSJS Ketanagakerjaan) dan menemukan bahwa 19.089 keryawan telah mengalami PHK.

Perusahaam manufaktur  merupakan perusahaan yang terpaksa memangkas karyawan dalam jumlah yang banyak, lalu perusahaan otomotif juga melakukan hal sama karena terkena imbas pandemi.

Maka dari itu Pemprov Jabar memutuskan untuk tidak menaikkan UMP. Ridwan Kamil mengatakan 60 persen pabrik di Indonesia berlokasi di Jabar dan Banten, kedua provinsi tersebut mengalami dampak pandemi.

“Jadi, jika kami menaikkan upah minimum, kami khawatir akan semakin banyak perusahaan yang memberhentikan karyawannya,” kata Ridwan Kamil yang juga menambahkan bahwa situasi ini jelas akan merugikan karyawan juga nantinya.

Meski kondisi krisis terjadi hampir menyeluruh, Ridwan Kamil mengaku indikator perekonomian provinsi telah menunjukkan tren positif utamanya pada sektor, daya beli dan kredit perbankan.

Ridwan menambahkan, sektor pengangkutan dan komunikasi juga mengalami peningkatan sebesar 47 persen.

“Pengalihan barang dan jasa angkutan orang ke platform digital, menyebabkan perekonomian sektor ini meningkat,” ujarnya.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *