Gema.id
Julian Nagelsmann dan Visi Pelatih Muda yang Tak Terbantahkan

Julian Nagelsmann dan Visi Pelatih Muda yang Tak Terbantahkan

Gema.id – Julian Nagelsmann tengah ramai dibicarakan, namanya kini mencuat di beberapa tahun terakhir dalam lanskap persepakbolaan Eropa. Sosok pelatih muda asal Jerman yang kini menangani Rasen Ballspot Leipzig (selanjutnya RB Leipzig) menepis keraguan akan usia muda di dunia kepelatihan sepak bola, bahwa mereka belum matang.

Namun bukankah memang semuanya butuh proses, Nagelsmann kini menapaki jejak karirnya setapak demi setapak dan Ia tidak salah untuk sekejap melakukan segalanya di usia yang terbilang amat muda. Baru 28 tahun, Julian Nagelsamann telah memulai karir kepelatihannya bersama TSG 1899 Hoffenheim.

Saat usia 28 di mana dunia pesepakbola para kebanyakan tengah berada di usai keemasan mereka dengan bertungkus lumus di atas ruput hijau, Nagelsmann justru memilih untuk mengambil hal-hal bersifat manajerial lalu berdiri di pinggir lapangan dalam dunia sepak bola, merencanakan tim, meramu starategi dan berpikir keras untuk membawa timya selalu mendulang hasil positif.

Sebab delapan tahun silam, saat berusia 20 tahun, suatu ketika aktif bermain sepak bola, Nagelsmann mengalami cedera parah, membuat dirinya banyak-banyak berkutat di meja operasi. Lelah akan hal itu, kebulatan tekad diambil dengan jalan pensiun dini.

Meski tidak lagi bermain tapi merasa belum bisa meninggalkan dunia Si Kulit Bundar, Nagelsmann mengambil jalan lain di dunia persepakbolaan. Ia memilih mengambil lisensi kepelatihan, mengasah nalar dalam menjalankan roda-roda tim. Dan benar, apa yang dimilikinya berupa skill dalam hal manajerial nyata adanya. Hal tersebut tertuang semua dan membuat para penikmat sepak bola mengakui.

Bersama klub semenjana Hoffenheim dirinya mendobrak batas dengan merebut satu tiket langsung Liga Champions dari para kontestan langganan pada musim 2017/2018 setelah menyelesaikan Bundesliga di posisi ketiga akhir klasemen.

Sudah merasa mencapai apa yang diingininya bersama Hoffenheim, puas membawa klub semenjana itu ke panggung terbesar pentas sepak bola Eropa, pada musim selanjutnya, merasa butuh tempat untuk lebih mengasah kemampuannya Nagelsmann menerima pinangan klub tajir RB Leipzig. Namun boleh dikata juga semenjana, RB Leipzig toh, baru berdiri 2009 menyoal prestasi tentu amatlah minim hitungannya.

Di usia yang muda dalam karir kepelatihan tentu hasrat menggebu dan rasa penasaran kian membesar, membuat Nagelsmann ingin terus mencari tantangan baru. Di usia yang ke-32 tahun bersama Die Rotten Bullen—julukan RB Leipzig—dirinya memimpin klub itu memimpin klasemen sementara Bundesliga musim 2019/2020, sementara di Liga Champions mereka lolos ke babak 16 besar dengan status juara grup.

Sederet capain mengejutkan itu, membuat nama Julian Nagelsman makin riuh digunjingkan, dan membuat beberapa top klub Eropa kepincut untuk mencoba servisnya. Apa sebenarnya resep rahasia Julian Nagelsmann dalam memotori klub semenjana namun mampu berbicara banyak?

Ternyata, beberapa inovasi terus dimunculkan dalam metode kepelatihan Nagelsmann, sadar Ia berada di zaman era teknologi, sesusatu yang bisa menyelinap ke dalam aspek apapun termasuk dalam kesehariannya melatih, bantuan tekonologi turut andil dalam metode yang diterapkan.

Dalam Traning-groud (pusat kepelatihan) dari saban melatih Hoffenhaim hingga bersama RB Leipzig penggunaan ‘Footbonaut’ untuk menyempurnakan sentuhan dan kontrol pemain mereka andil dalam keseharian Nagelsmaan melatih.

Tak hanya itu di dalam hari-harinya sebagai pelatih yang kaya akan penggunaan benda-benda canggih. Selain menggunakan drone untuk merekam gerakan pasukannya, ia memasang videowall raksasa di tengah jalur pelatihan utama mereka.

Sistem ini bekerja dengan empat kamera, dua dari menara tinggi di atas garis tengah dan satu di belakang setiap tujuan. Umpan dari masing-masing kamera dapat ditampilkan di layar kapan saja dan kamera dikendalikan oleh staf pelatihan, memberi mereka kesempatan untuk menghentikan, memundurkan atau memajukan rekaman agar menunjukkan kepada para pemain poin-poin menarik dari latihannya. Hal ini kemudian memberi Nagelsmann kesempatan untuk menjelaskan situasi dengan lebih detail dengan empat sudut yang bisa dia gunakan. 

Sejurus kemudian, apa yang mereka lakukan pagi dan sorenya di dalam latihan, lalu diterapkan dipertandingan resmi baik di Bundesliga maupun panggung Liga Champions. Biasanya, Nagelsmann mengomandoi timnya turun dengan formasi 3-1-4-2.

Formasi yang diterapkannya banyak-banyak bercemin dan belajar dari pesohor taktik dan strategi  perihal sepak bola; Jogo Bonito-nyaPep Guardiola yang dicermati, Tucel Ball-nya Thomas Tucel, dan filosofi sepak bolanya Ralf Rangnick. Kesemuanya itu sukses tereksekusi pada gaya permainan tim asuhan Nagelsmann.

Melihat pasukan Julian Nagelsemann bermain detail menjadi hal yang harus betul diperhatikan, ketekunan pemain dalam mendengar intruksi sang pelatih menjadi kunci. Transformasi permainan dari menyerang ke bertahan harus benar-benar cair.

RB Leipzig pun berhasil menjadi juara paruh musim Bundesliga 2019/2020. Sebuah kado natal dipersembahkannya kepada semua penggemar. Meski baru separuh perjalanan namun jelas ancaman meruntuhkan dominasi semakin ditebar.

Mungkin terlalu cepat menilai Julian Nagelsmann akan menjadi salah satu pelatih terbaik di dunia. Akan tetapi usia dan dalih ‘minim pengalaman’ tidak selalu menjadi tembok bagi pelatih-pelatih muda untuk bisa tampil mendombrak. Andre Villas Boas bisa menjadi salah satu rujukan yang pernah menghentak jagad sepak bola. Pelatih muda nan kaya akan prestasi bersama FC Porto.

Villas Boas memang pada akhirnya meredup, namun kita juga boleh berpendapat pelatih yang sudah umur karatan namun kaya pengalaman juga tidak selalu berhasil membawa timnya cemerlang. Tim sekelas Napoli memecat Carlo Ancelotti yang CV-nya tidak terbantahkan lagi.

Satu hal yang pasti relevansi cara bermain harus tetep di jaga di dalam sepak bola di zaman kiwari untuk menggapai prestasi. Dan, ada nama Nagelsmann ada dalam daftar itu, karena Jurgen Klopp dan Pep Guardiola telah membuktikannya di usia muda kepelatihan.

Kalau muda bisa, kenapa harus menunggu tua, Orang-orang juga memanggil Nagelsmann, “Mourinho Muda.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *