Kembali Menu Beranda
Bitter
Bulu Tanah Bukan Wahana Kaum Hedonisme

Bulu Tanah Bukan Wahana Kaum Hedonisme

Curhat
Bulu Tanah Bukan Wahana Kaum Hedonisme

Seketika ramai di sebuah malam dengan sosok penikmat, menikmati dinginnya malam dengan riuk dan terikan-terikan, terdengar suara gemuruh dengan berbagai nada menggelitik sampai dengan nada provokatif nan erotis, sedikit mengajak dan memancing adrenalin sensualitas.

Entah karena di bawah alam sadarnya, penikmat itu meluapkan kebodohan, kebobrokan dan keterbelakangan mental, merendahkan derajat alam semesta dan mereduksi fitrah kemanusiaanya, betapa tidak mengherankan tempat begitu sejuk, asri dan alami yang tak sepantasnya menjadi pesta dan terikan-terikan amoral.

Yah, kenakalan berpikirku demikian mengafirmasi bahwa tempat ini adalah wahana baru di daerah beradat dan “makkiade” sebagai wahana hedonisasi.

Mereka menggila hingga melupa, meraka melupa hingga tak sadar bahwa tugasnya menjaga alam semesta, namun nada-nada porno-aksi dengan berbagai keributan-keributan lainya membuat akaliahku berpiikir bahwa demikian alam semesta akan meresponnya dengan penghukuman ?

Yah, jika dibirakan terus menerus maka tak lama lagi akan ada kerusakan, oleh akibat manusia itu sendiri, bukan karena kehendak Tuhan, melainka karena ulah manusia-manusia yang mungkin telah menganut hedonisme, sebuah paham yang menurut teori Aristippus yaitu meyakini bahwa di dunia ini hanya ada dua hal yaitu kesenangan dan rasa sakit, orientasi kaum hedonisme lebih kepada kesenagan dari segi fisikal.

Mareka itulah manusia-manusia yang tidak tuntas dengan esensi dan konsepsi ‘Kepecintaan Alam’, mereka tumpul dengan perenungan hingga tak menyadari eksistensinya ia hadir di puncak Bulu Tanah.

Bulu Tanah yang santer dikabarkan menjadi tempat wisata ter hits oleh semua kalangan di Kabupaten Bone saat ini, namun sejatinya tak sekadar menjadi wahana untuk pencitraan belaka, sebagian berdatangan tanpa bekal mencintai alam, lalu mereka pergi dengan meninggalkan jejak kerusakan, lalu apa yang pantas dibanggakan jika demikian eksistensinya untuk pose dan kepentingan sosial media belaka, namun lingkungan hidup terzolimi, liat aja sampah-sampahnya… 😛

Di sisi lain, tak dapat dipungkiri bahwa kehadiran berbagai kalangan setidaknya mempengaruhi sektor ekonomi masyarakat Bulu Tanah, sontak begitu banyak masyarakat setempat memanfaatkan peluang bisnis melihat banyaknya pengunjung yang berdatangan, namun di sisi lain perlu adanya pembenahan oleh pemangku kepentingan atau pemerintah setempat mengenai regulasi agar pengunjung mampu menjaga atitude, dalam terminologi bugis “maakiade” sebab tak sedikit orang yang hadir merasa terganggu dengan teriakan-terikan bebas orang pengunjung lain.

Olehnya itu, demi keasrian alam Bulu Tanah maka sebagai orang Bone yang paham makna “makkiade” tentu tidak ingin membiarkan kelestarian alamnya rusak, maka sangat dipandang perlu ada pembenahan terlebih, bahkan semua unsur mesti menyadari sebelum adanya akibat yang tidak kita inginkan bersama.

Akhir kata, marilah menjadi pengunjung yang santun dengan bertutur kata yang bijak dan bertindak sebagaimana citra kita sebagai masyarakat Bugis Bone yang mengedepankan nilai-nilai “makkiade”, demi kenyamanan bersama dan kelestarian Alam Bulu Tanah.

Wallahuaallambishawab

Penulis : Pahrian