Kembali Menu
Komunitas
Kekhawatiran Menjadi Biasa-biasa Saja

Kekhawatiran Menjadi Biasa-biasa Saja

Curhat
Kekhawatiran Menjadi Biasa-biasa Saja

Kamu mesti menghindari popularitas jika dirimu menginginkan kedamaian. Nasihat itu diucapkan Abraham Lincolin. Dia bukan kakek saya, tentu, namun saya senang membayangkannya bicara kepada semua orang yang risau, cemas dan khawatir tentang kehadirannya di semesta raya ini.

Sebagaiamana umumnya orang tua yang punya kekhawatiran, Lincolin cemas pada generasi kini yang berlomba-lomba untuk selalu mendapatkan pengakuan, selalu ingin menjadi yang teratas dan pokoknya! Apa saja serba kebaruan.

Seandainya sejak kecil saya mendengarkan Lincolin, yang bijaksana dan caranya menasihati begitu menyadarkan, akankah saya dengan sekejap mengubah pandangan saya terhadap dunia yang bergerak cepat ini?

Kita hadir setelah begitu banyak fenomena yang terjadi, selama lebih dari ribuan tahun lalu. Dan nampaknya kita selalu dipaksa untuk menerima, lalu mengikuti apapun itu. Ini adalah aspek yang menarik dari sifat manusia bahwa kita tampaknya memiliki kebutuhan, obsesi untuk mewujudkan kesempatan dan semua yang kita inginkan.

Kita khawatir menjadi biasa-biasa saja dengan memandang dunia dengan apadanya. Kita takut tidak dianggap, tertinggal, kuno lalu menghilang dilindis zaman.

Sebagian orang menganggap yang “ada” itu, mereka yang menjadi miliarder terkenal di dunia. Si jenius teknologi. Penemu dan pengusaha. Atletis, bertalenta, tampan denga rahang yang kuat, seperti Zeus yang turun dari Olympus.

Sesuatu yang jauh-jauh hari juga dikhawatirkan Pangeran Cilik dalam novel karya Antoinne de Saint-Exupery dengan judul yang sama bahwa ‘yang paling tidak menarik dari orang dewasa adalah mengukur segalanya dari materi’.

Sementara di dunia yang begitu luas ini, kita semua tidak bergerak pada titik yang sama, sebagiannya lagi besar dan tumbuh dengan penuh guncangan.

Mark Manson pernah mengungkapkan segala sesuatu dalam hidup mungkin adalah pertukaran. Beberapa dari kita dilahirkan dengan bakat yang tinggi untuk pembelajaran akademik. Yang lain dilahirkan dengan keterampilan fisik yang hebat. Yang lainnya atletis sementara lainnya artistik. Kita semua dilahirkan dengan bakat dan potensi yang berbeda.

Lalu mengapa rasa khawatir terus melanda?

Si Manson penulis buku “Seni untuk Bersikap Bodo Amat” yang laris itu, mengatakan ada semacam tirani yang mencoba merasuki dalam diri kita. Dalam budaya kita hari ini, perasaan untuk menjadi istimewa, unik, luar biasa, setiap saat, tidak peduli apa pun, bersiul di kepala berkat ucapan segelintir orang.

Orang-orang sering luput dari ingatannya, bahwa popularitas, menjadi spesial atau sosok yang luar biasa itu dicapai, mungkin berkat privilege tertentu.

Meski begitu tetap saja hal sepertinya menjadi bagian yang diterima dari budaya kita hari ini untuk percaya bahwa kita semua ditakdirkan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar luar biasa. Selebriti mengatakannya. Para taipan bisnis mengatakannya. Politisi mengatakannya.

Masing-masing dari kita dapat menjadi luar biasa, kita semua layak mendapatkan kebesaran. Sehingga jika terjadi kegagalan atau rintangan yang memberatkan, mereka yang tak sampai ke tujuan dinilai gagal, anggapan ini adalah dusta terbesar sebagai justifikasi ketidakdilan.

Menjadi biasa-biasa saja, atau berada di angka rata-rata telah menjadi standar baru kegagalan. Banyak orang takut untuk menerima menjadi biasa-biasa saja karena mereka percaya bahwa jika mereka menerima menjadi biasa-biasa saja, maka mereka tidak akan pernah mencapai apa pun, hidup tidak akan pernah membaik.

Ini adalah ironi besar tentang ambisi. Jika hasrat ingin menjadi terpintar dan sukses daripada orang lain terbawa, tentu perasaan selalu merasa gagal terus menghampiri. Jika ingin menjadi populer, maka perasaan selalu merasa sendirian adalah teman akrab. Dan, jika selalu ingin menjadi paling kuat dan dikagumi, maka selalu merasa lemah dan impoten akan menghantui.

“Setiap orang bisa menjadi luar biasa dan mencapai kebesaran “. Omong kosong itu dijual dalam masyarakat pemburu-peramu. Pada dasarnya ini hanyalah persoalan melepaskan ego.

Tanpa menjadi luar biasa, populer dan tidak mendapati pengakuan, bukanlah masalah, saya harus memiliki apresiasi untuk diri saya sendiri. Menghargai kesenangan dari persahabatan yang sederhana, membantu orang yang membutuhkan, membaca buku yang bagus, tertawa dengan seseorang yang saya sayangi.

Kedengarannya membosankan, bukan? Karena hal ini rata-rata kebanyakan. Menjadi biasa-biasa saja sebenarnya penting. Omongan ‘menghargai orang-orang biasa dengan pekerjaan-pekerjaan biasa’ mestinya harus tetap saya rawat.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan