Kembali Menu Beranda
Bitter
Kita Mengalami Kelelahan Batin Akibat Berita Buruk yang Terus Datang

Kita Mengalami Kelelahan Batin Akibat Berita Buruk yang Terus Datang

Berita
Kita Mengalami Kelelahan Batin Akibat Berita Buruk yang Terus Datang

“Konsumsi berita meroket pada awal pandemi, tetapi bagi sebagian orang hal itu menyebabkan kelelahan dan kecemasan.”

Pemberitaan tiada henti-hentinya secara konstan masuk ke ponsel Anda. Banyak acara TV yang tergantikan semenjak pandemi, seperti tayangan olahraga favorit misalnya. Sementara di media sosial dan media bertukar pesan seperti WhatsApp saling berbagi tentang Coronavirus semakin ramai. Grup-grup keluarga, teman seangkatan dan komunitas berganti topik tentang ”Bahaya Covid-19”.

Jika asupan berita seumpama adalah sebuah kalori yang masuk ke dalam tubuh, itu akan menumpuk dan membuat berat badan akan bertambah. Begitu banyak gelombang lintasan yang menghubungkan berita yang satu ke berita yang lainnya dengan membahas topik yang sama yakni Coronavirus. Beberapa perusahaan media mencatatkan rekor semenjak pandemi yang pada Maret lalu berdampak hampir di seluruh dunia. Pemirsa di usia muda pun yang biasanya menghindar dari acara berita di televisi lawas kini rutin mengikuti.

Fungsi media yang utamanya memberikan informasi dan mengedukasi di saat seperti ini sebenarnya sangatlah dibutuhkan apalagi semenjak wabah melandah dunia namun tak sedikit pula dari kita terus-menerus merasa cemas akibat banyaknya berita yang muncul membahas isu serupa. Apalagi di saat masa-masa karantina, memilih untuk bertahan dan tidak meninggalkan rumah. Kita terjebak dalam isolasi, jauh dari keluarga, merasa sendiri dan rasa takut terus menggerogoti.

Graham Davey dari University of Sussex melakukan riset dan menemukan belakangan ini, ada gejala yang disebut news fatigue. Kita mengalami kelelahan batin karena berita buruk yang terus datang. Hal tersebut membuat kemampuan seseorang untuk peduli semakin berkurang, kurang fokus dan dipaksa selalu siaga karena kondisi yang kian memburuk.

Sementara sebuah studi terpisah dirilis oleh Pew Research Center pada akhir April kemarin menemukan bahwa sekitar tujuh dari 10 orang Amerika mengatakan perlu istirahat dari berita tentang Coronavirus, dan empat dari 10 mengatakan mereka merasa lebih buruk secara emosional sebagai akibat mengikuti berita.

News fatigue membuat orang-orang kewalahan dan bosan pada berita buruk tentang Coronavirus yang terus berdatangan dan belum pasti kapan akan selesai, sementara itu kehidupan ke depan dengan banyak perubahan membuat seseorang ragu melihat dunia di masa mendatang.

Selain kewalahan, tren news fatigue juga membuat orang-orang cemas tidak berkesudahan dan bisa berdampak lebih buruk bagi orang-orang yang mempunyai riwayat kesehatan mental akibat mendapatkan siklus berita buruk yang tiada henti-hentinya.

Kini, banyak yang berusaha untuk tidak mengikuti perkembangan dengan membaca berita, adapula yang memetakan berita mana yang sebaiknya mereka konsumsi. Namun hal ini tidak menjadi solusi yang ampuh di tengah kecemasan yang terus melanda, Anda akan terus terdorong mencari dan mencari hal terkait karena merasa cemas.

Dan tak sedikit juga dari mereka yang sudah mengalami tekanan psikologi akibat dibanjiri informasi buruk memilih tidak peduli lagi, apatis lalu kembali ke kucing peliharaan mereka atau melanjutkan series Netflix pada playlist nya. (Irzandi)

Sumber Gambar: BBC