Kembali Menu Beranda
Bitter
Mereka yang Dipersatukan oleh Ketakutan

Mereka yang Dipersatukan oleh Ketakutan

Opini
Mereka yang Dipersatukan oleh Ketakutan

Apa yang membuat Homo Sapiens unggul dari makhluk lainnya? Kata Yuval Noah Harari dalam bukunya “Sapiens: Sejarah Singkat Umat Manusia” bahwa dalam klasifikasinya Sapiens adalah satu-satunya makhluk yang pandai mengembangkan komunikasi dibanding dengan spesies lainnya, mereka merawatnya dan membuat tentang apa yang mereka percakapkan terus berkembang dan bisa melebar.

Karena di antara genus manusia (homo) seperti Nenderthal, Erectus, dan Soloensis. Sapiens merupakan spesies yang mengalami revolusi kognitif lebih cepat daripada spesies lainnya. Pada pijakan itulah mengapa hingga saat ini mereka menjadi penakluk-penakluk belahan bumi.

Bertahan hingga kini, mereka terus merumuskan mitos-mitos kuno dan modern yang kemudian menjadi legitimasi dalam meraih mimpi secara komunal yang sebetulnya dulu hanya sekadar angan-angan. Sebut saja yang dimunculkan Sapiens; mereka bisa menciptakkan besi yang bisa terbang (pesawat), menciptakan kendaraan yang bisa mengarungi samudera lautan (kapal), hingga menciptakan alat untuk berkomunikasi meski jarak terbentang jauh dari pulau ke pulau (ponsel).

Tak cukup. Kecakapan Sapiens dalam berkomunikasi membuat mereka seringkali menciptakan rekaan-rekaan yang mungkin saja tidak bisa terjadi atau justru membuat kerumunan mereka sendiri berada dalam fase ketakutan bersama, mereka cemas akan eksistensi mereka sendiri secara kolektif.

Manusia memang selalu dalam dilema eksistensial. Di satu sisi mereka merindukan kebebasan dan sisi yang lain ketika bebas, mereka menjadi tak berdaya dan takut (Eric Fromm, 1997). Meskipun di satu sisi mereka memliki kelonggaran dalam hal kebebasan, namun di sisi lain, manusia tetap takut menghadapi kematian setelah sekian lama jiwanya hidup di dalam tubuh.

Banyak faktor yang membuat seseorang takut pada kematian, meski berada di belahan bumi mana pun eksistensi mereka akan tergerus dan niscaya kematian pasti datang hadirnya. Seseorang yang tidak menemukan tujuan atau kegunaan dalam hidupnya, tentu kematian akan menjadi pengalaman yang sangat mencemaskan dalam hidupnya.

Pada taraf kecemasan itu, dikuatkan oleh berbagai faktor di antaranya usia, keyakinan religius, dan tingkat di mana individu yang mempunyai kehidupan yang memuaskan. Puncaknya saat berbagai dimensi secara bersama-sama membentuk semacam strukutur pada ketakutan itu, seringkali menimbulkan gangguan fungsi normal manusia. Sehingga ketakutan akan kematian akan menjadi hal yang abnormal, menyedihkan dan patologis.

Teror Berita Corona

Mulai dari teror di grup-grup WahtsApp keluarga hingga ikatan alumni, virus corona digunjingkan menjadi topik pembicaraan. Belum lagi setiap ruang di media sosial virus corona menjadi buah bibir.

Hal ini bukan tanpa alasan, virus yang mulai mewabah sejak Desember akhir tahun 2019 di Wuhan, Cina, kini menjadi momok bagi masyarakat dunia. Dan telah menyebar ke banyak negara, termasuk menyebar ke negeri tetangga, di antaranya Malaysia dan Singapura. Kegamangan makin bertambah saat di mana virus ini dikonfirmasi juga masuk ke Indonesia.

Namun pesatnya informasi yang tak bisa dibendung membuat banyak orang-orang justru berlomba-lomba masuk ke dalam penyesatan informasi akan hal ini. Mengaitkannya jauh dari pokok permasalahan dan membuat banyak orang berada di fase kecemasan yang terus menghantui meski itu di luar dari hal-hal yang menyebabkan virus mewabah.

Ramainya tagar #INA_Coronavirusalert di jagad media sosial membuat virus ini menjadi obrolan, topik hangat; berbagi informasi soal virus dan cara pencegahannya. Namun ada yang memanfaatkannya dengan nada sentimen, memicu propaganda yang jauh dari wabah virus corona.

Berdasarakan teori konspirasi, segelintir orang mengatakan virus corona ini disebebakan oleh pemerintah komunis Cina untuk membasmi umat Islam, sementara segelintir orang lainnya mengatakan dengan lantang ini adalah “Laknatullah” sebagai balasan atas kekejaman pemerintah Cina terhadap masyarakat Uighur.

Sebagai lawan dari sains, teori konspirasi tak mementingkan ketetapatan objektivitas, ia menyediakan jawaban yang asal-asalan yang bisa berujung teror sementara sains sebaliknya, ia bersandar pada fakta, rajin mencari kebenaran objektif dan selalu disiplin verifikasi.

Penangkalannya sederhana, untuk mencegah teror-teror itu berteriak bising, sangat diperlukan verifikasi dalam menerima dan menyebarkan berita, bukannya terjerumus ke dalam falsifikasi.

Wabah Sampar

Mengapa Sampar? Sebab “Sampar” novel Albert Camus masih relevan dengan kondisi kita hari ini, apalagi menyoal wabah yang membuat ekstensi manusia kian di mari semakin tergerus. Mereka menjadi cemas, bingung dan saling melemparkan kesalahan.

Novel “Sampar” menceritakan tentang wabah yang menyerang kota Oran. Tak ada ruang untuk berkonfrontasi, yang ada penduduk hanya menerima dan sebisa mungkin berdamai dengan keadaan. Hingga suatu ketika masing-masing tokoh bersikap dengan meluaskan ego mereka tanpa memperdulikan di sekitarnya.

Sebut saja sang Pendeta (agamawan) mereka bergeming bahwa wabah sampar hanyalah ujian dari tuhan dari sekian banyak ujian yang diberikan. Bahwa alam semesta yang diciptakan ini semua-muanya di bawah kontrol Sang Pencipta.

Sementara Ilmuwan bertahan di Oran bukan mereka percaya adanya Tuhan. Dengan berpandangan materialistik mereka beranggapan bahwa kehidupan dan alam semesta adalah kesia-sian. Sama dengan Sang Pemikir yang berpijak pada absurditas namun mereka percaya dengan kecakapan dan kesadaran maka tak ada salahnya untuk saling membantu, jika memang toh, pada akhirnya adalah kesia-siaan setidaknya ada upaya demi kemaslahatan bersama.

Albert Camus memang tidak hadir, tapi apa yang ditulis pada novelnya itu, kini benar-benar menggerogoti manusia. Wabah Corona membuat manusia gamang, panik dan takut. Manusia berlomba-lomba menyelamatkan dirinya dengan semua perkakas yang mereka miliki.

Mungkin tidak semua orang berada pada level kegamangan dan panik yang meninggi. Mereka tetap tenang, mengalir jernih tanpa memborong makanan, obat-obatan dan masker seolah-olah kiamat tinggal menunggu hari Jumat yang tepat. Sebut saja Si Fulan, tanpa virus yang mewabah ini, dirinya sudah bergelut dengan hidup. Baginya kematian dan kehidupan berjarak tipis.

Maka tak ayal sebagian dari mereka sebenarnya sedang ber-Tuhan pada ketakutan.