Kembali Menu
Gema.id
Kota Jakarta, Banjir dan Warganet Yang Maha Benar

Kota Jakarta, Banjir dan Warganet Yang Maha Benar

Kota Jakarta, Banjir dan Warganet Yang Maha Benar

Malam itu, akhir tahun 2019 akan segera berakhir, sesuai dengan penanggalan Masehi. Hal ini menunjukkan banyak fenomena terjadi. Seperti biasa, akan banyak diskon di pusat perbelanjaan, atau iklan yang bertebaran secara online maupun selebaran di jalanan. Ini terlihat ketika saya berada di Jakarta.

Kota yang sangat maju dengan banyak juga permasalahan di dalamnya, satu-satunya di Indonesia yang memiliki status setingkat dengan Provinsi. Kota Jakarta terletak di pesisir bagian  barat Pulau Jawa.

Dalam sejarahnya kota ini pernah beberapa kali berganti nama. Diantaranya; Sunda Kelapa, Jayakarta dan Batavia. Bahkan di Dunia Internasional mempunyai julukan The Big Durian karena dianggap sebanding New York City ( Big Apple).

Secara peringatan Hari jadi, Kota ini lahir pada tanggal 22 Juni 1527. Umur sudah mencapai 492 tahun. Dan, untuk wilayah Kota ini memiliki Satu Kabupaten, 5 Kota, 44 Kecamatan dan 267 Kelurahan. Untuk saat ini dipimpin Anies Baswedan yang menjabat sebagai Gubernur.

Saya berada di Jakarta hanya sekitar 4 hari, walau ini bukan kedatangan untuk pertama kalinya. Namun, kota ini juga banyak berubah. Secara infrastruktur pembangunan, misal saja; mencoba bagaimana kereta MRT yang sudah beroperasi. Saya merasakan sebuah alternatif Angkutan Massal yang baik untuk masyarakat banyak.

Kereta dengan Teknologi yang mumpuni, sangat cepat dan tidak terlalu berisik seperti kerete konvensional. Lalu setelah mencoba kereta, kembali ke stasiun Sudirman. Seorang kawan bilang ke saya. Kita lihat saja nanti, bagaimana jika Musim hujan tiba di Kota ini. Apakah air akan masuk ke dalam stasiun bawah tanah yang dalamnya sekitar 30 Meter ini. Perkataanya membawaku membayangkan hal itu. Apalagi ini akhir tahun di mana musim hujan sebentar lagi tiba.

Sepulang dari Jakarta, saya hanya berharap semoga di sana tidak akan terjadi hal-hal yang kami bicarakan. Lalu waktu terus berjalan, akhir tahun semakin dekat. Hanya menghitung beberapa jam kemudian. Saya masih berada di rumah seorang kawan, menikmati teh. Tidak lama berselang gemuruh langit mulai terdengar. Awalnya saya hanya menyangka  itu adalah bunyi petasan, tapi bukan. Seiring silih berganti suara gemuruh, air langit mulai turun mencium tanah. Hujan sangat deras, suara petasan hilang. Jalanan mulai sepi, dan air diselokan mulai naik mengisi jalanan beraspal. 

Jalanan mulai tergenang, hal ini membawaku mengingat kota Jakarta. Pertanyaan isi kepalaku penuh. Bagimana di sana? Apakah benar air tidak masuk ke stasiun ? atau banjir parah akan melanda kota Jakarta lagi. Sampai hujan berhenti, saya pulang walau masih banyak tanya. Saya tiba dirumah dan berbaring, sedikit membaca Buku. Lalu entah jam berapa saya mulai hanyut dalam mimpi. 

Banjir Kota Jakarta

Esok hari tiba, mendung terlihat dari jendela. Sepertinya malam ini hujan tidak akan menyerah untuk jatuh kembali ke tanah. Mengecek berita melalui sosial media. Saat terus scroll layar HP, saya mulai kaget melihat beberapa Foto banjir Kota Jakarta.

Baca juga: Perumahan Elite Kelapa Gading Tak Terhindar dari Banjir Jakarta

Bisa saja berita sosial media adalah: Hoax. Maka saya menghidupkan TV untuk cek langsung kebenarannya. Dan, benar adanya, kota Jakarta sedang terjadi banjir yang lumayan parah, dengan asumsi bahwa badan mobil hampir tenggelam. Saya coba terus mencari fakta lain, terus mencari agar mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Hampir semua media sudah memberitakan, bahwa bencana banjir sudah terjadi di kota yang dihuni jutaan orang ini. Kita hanya bisa terus berdoa agar sahabat, keluarga dan masyarakat luas tidak terjadi apa-apa. Tentu harapannya tidak ada korban jiwa. Karena betapa luka yang perih, ketika banjir akan merenggut anggota keluarga ataupun sahabat.

Kita tahu bahwa banjir tidak ada yang menginginkan. Namun, ini sedang terjadi di Jakarta. Mungkin juga bukan hanya terjadi di Ibu Kota Jakarta, apalagi dengan cuaca buruk yang terus- menerus tanpa henti. Dalam beberapa update prediksi cuaca bahwa potensi hujan beberapa kota akan terus berlangsung. Maka bersiap harus sedari dini. 

Semoga saja, para petugas penyelamat diberi kesehatan dan kekuatan. Lalu para relawan terus bisa membantu saudara kita yang sedang membutuhkan. Seperti bencana sebelumnya, misalnya di Kota Palu. Kita harus terus siap dan sigap untuk membantu apa saja kepada saudara kita yang sedang membutuhkan. 

Warganet Yang Maha Benar

Banjir telah terjadi di Kota Jakarta. Penyebabnya tentu banyak faktor. Seperti mengingatkan kembali saya pada sebuah diskusi dengan kawan. Lulusan Teknik Sipil. Dia menyampaikan bahwa banjir itu sebenarnya tidak ada. Saya kaget mendengarnya. Tentu saja saya balik bertanya. Maksudnya?

Banjir adalah air tergenang, yang lambat meresap ke dalam tanah. Disebabkan ruang penyerapan yang berkurang, karena betonisasi, aspal dan pembangunan yang tidak tertata dengan baik. Hal itu yang dia sampaikan. 

Tetapi Warganet sungguh kadang-kadang bijak dan kadang menjadi jahat. Saya orang yang percaya bahwa kritik adalah sumbangan paling baik. Namun, warganet memang sudah menyerang sana-sini. Yang salah haruslah pemimpinnya.

Saya temui beberapa cuitan kepada Gubernur Anies Baswedan yang terus menerus diserang. Saya tidak berpihak kepada beliau. Hanya saja sedikit tenang. Kritiklah dengan baik, apalagi sudah terjadi banjir, harusnya sama-sama memikirkan solusi dan penanggulangan jangka pendek.

Patut dipahami juga, mereka marah. Namun, untuk menjadi Arif dan Bijak harus melihat dari berbagai pandangan. Agar kita bisa, jernih mengalir melihat masalah, lalu bersama untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. 

Atau hal lain saya pikir permainan buzzer justru sangat rapi. Seolah terstruktur untuk terus memperkeruh keadaan. Hal-hal ini tidak baik, terus mengajarkan kita pada kebencian sosok. Sampai ada cuitan yang berita lama tentang Presiden Republik Indonesia. Yang judulnya akan lebih mudah mengatasi banjir Jakarta jika saya menjadi Presiden.

Ya, sudahlah jangan saling serang menahan diri dulu, untuk mencari titik solusi yang bisa membantu saudara kita yang sedang kesusahan. Maka sekejam-kejamnya Ibu Kota Jakarta lebih kejam jempol Warganet. Salam hangat, semoga kebaikan dan kesehatan untuk saudara kita tetap terjaga. Awal tahun harusnya menjadi awal yang baik dan mempersiapkan diri untuk karya baru. 

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *