Kembali Menu
Gema.id
Masa Depan Agama; Data dan Fakta Keberlangsungan Agama di Dunia

Masa Depan Agama; Data dan Fakta Keberlangsungan Agama di Dunia

Masa Depan Agama; Data dan Fakta Keberlangsungan Agama di Dunia

Saat ini 84 persen populasi global mengidentifikasi diri dengan kelompok agama tertentu. Dengan ini kita bisa bertanya, apa artinya agama untuk masa depan?

Pada 2018, The Gurdian menurunkan laporan yang berisi timbunan data tentang agama, mereka menemukan beberapa variabel tentang agama dan bagaimana ini akan berjalan di masa mendatang. Menarik untuk menelaah beberapa hal yang dikemukakan, mulai dari berapa banyak jumlah orang yang beragama, bagaimana dengan nasib agama samawi di tengah-tengah bermunculannnya agama baru, jika mayoritas, orang-orang masih percaya agama ke mana arah dunia ini, selanjutnya?

Yuval Noah Harari sejarahwan Israel menganggap di masa depan kemanusiaan adalah yang paling utama sesuatu yang keras di suarakan dalam bukunya 21 Lessons: 21 Adab di Abad 21, ia bisa beranggapan demikian, meski begitu saat ini yang pasti, orang-orang yang bersandar pada keyakinan sedang meningkat pesat.

Berapa banyak orang beragama di seluruh dunia?

Saat ini, di abad ke-21 sebagian beranggapan agama adalah milik masa lalu dan kita hidup di zaman yang mengagung-agungkan rasionalitas di mana nalar menjadi paling penting dari eksistensi, namun faktanya, 84 persen populasi dunia mengindentifikasikan diri dengan kelompok agama. Menariknya, anggota demografis ini umumnya berusia muda dan menghasilkan lebih banyak anak daripada mereka yang tidak memilki afiliasi keagamaan, sehingga dunia menjadi lebih religius.

Menurut angka tahun 2015, umat Kristen merupakan kelompok agama terbesar dengan total 2,3 miliar penganut atau 31,2 persen dari populasi dunia saat ini sebesar 7,3 miliar. Berikutnya adalah Muslim (1,8 miliar atau 24,1 persen) Hindu (1,1 miliar atau 15 persen) dan Buddha (500 juta, atau persen).
Kategori berikut adalah orang-orang yang menjalankan agama rakyat atau agama tradisional; ada 400 juta dari mereka, atau 6 persen dari total global. Penganut agama yang lebih sedikit, termasuk Sikhisme, Baha’i dan Janisme, jumlahnya mencapai 58 juta atau jauh di bawah 1 persen. Ada 14 juta orang Yahudi di dunia, sekitar 0,2 persen dari populasi global, terkonsentrasi di AS dan Israel.

Tetapi 1,2 miliar orang di dunia, atau 16 persen mengatakan bahwa mereka tidak memiliki afiliasi keagamaan sama sekali. Ini tidak berarti semuanya ateis, beberapa—mungkin sebagian besar—memiliki rasa spritualis atau kepercayaan yang kuat pada Tuhan, dewa atau kekuatan penuntun, tetapi mereka tidak mengidenitifikasi atau mempraktikkan ajaran agama yang terorganisir seperti orang-orang pada umumnya.

Hampir semua agama memiliki subdivisi atau sederhananya beberapa agama memiliki aliran. Misalnya Umat Kristen, Katolik Roma adalah kelompok terbesar dengan hampir 1,3 miliar penganut, sementara Muslim mayoritas Sunni, Syiah, Ibadi, Ahmadiyah atau Sufi. Hinduisme memiliki empat kelompok utama: Vaishnavism, Shaivism, Shaktism dan Smartism. Ada dua tradisi utama dalam Buddhisme—Theravada dan Mahayama. Dan, Yahudi terbagi-bagi pula, ada yang memilih ortodoks, ultra-ortodoks, konservatif, reformasi atau milik kelompok yang lebih kecil.

Dilihat dari segi geografi. Asia Pasifik adalah kawasan terpadat di dunia, dan paling religius. Tiga perempat orang religius tinggal di negara tempat mereka dengan mayoritas penduduknya, seperempat sisanya hidup sebagai agama minoritas. Misalnya, 97 persen umat Hindu tinggal di tiga negara mayoritas Hindu: India, Mauritius dan Nepal, sementara 87 persen umat Kristen tinggal di 157 negara mayoritas Kristen. Tiga perempat Muslim tinggal di negara-negara mayoritas Muslim. Di antara mereka yang tidak berafiliasi secara agama, tujuh dari 10 tinggal di negara tempat mereka menjadi mayoritas, termasuk Cina, Republik Ceko dan Korea Utara.

Sebaliknya, sebagian besar umat Buddha, hidup sebagai minoritas di negara asal mereka seperti Myanmar, Kamboja, Laos, Mongolia, Sri Lanka, dan Thailand.

Agama mana yang tumbuh dan di mana?

Jawaban singkatnya adalah jumlah penduduk yang beragama semakin berkurang di Eropa, khusunya di Eropa Barat dan Amerika Utara namun berkembang di tempat lain.

Usia rata-rata populasi global adalah 28. Dua agama memilki median usia di bawah itu: Muslim (23) dan Hindu (26). Agama utama lainnya memiliki usia rata-rata yang lebih tua: Kristen 30, Buddha, 34 dan Yahudi 36. Yang tidak berafiliasi secara agama masuk pada usia 34.

Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di dunia—lebih dari dua kali lebih cepat dari populasi global secara keseluruhan. Antara 2015 dan 2060, penduduk dunia diperkirakan meningkat 32 persen, diikuti populasi Muslim diperkirakan tumbuh 70 persen. Dan meskipun umat Kristen juga akan tumbuh lebih besar dari populasi umum selama periode itu, dengan perkiraan kenaikan 34 persen terutama berkat pertumbuhan populasi di sub-Sahara Afrika, agama Kristen kemungkinan besar akan kehilangan posisi teratas agama yang memiliki penganut terbanyak di dunia lalu beralih ke Islam pada pertengahan abad ini.

Sementara orang yang tidak berafiliasi secara agama saat ini merupakan 16 persen dari populasi global, hanya sekitar 10 persen dari bayi baru lahir di dunia yang lahir dari ibu yang tidak berafiliasi antara tahun 2010-2015.

Tetapi 23 persen Muslim Amerika mengatakan bahwa mereka berpindah keyakinan, dan dalam beberapa tahun terakhir telah ada bukti anekdot yang berkembang tentang pengungsi Muslim yang beralih Kristen di Eropa.

Cina telah menyaksikan kebangkitan agama yang sangat besar dalam beberapa tahun terakhir dan beberapa memperkirakan itu akan memiliki populasi Kristen terbesar di dunia pada tahun 2030. Jumlah Protestan Cina telah tumbuh rata-rata 10 persen setiap tahun sejak 1979, menjadi antara 93 juta dan 115 juta, menurut untuk satu perkirakan. Diperkirakan ada 10-12 juta umat Katolik lainnya.

Sebaliknya, Kekristenan sedang menurun di Eropa Barat. Di Irlandia, yang secara tradisional merupakan negara Katolik yang kukuh, proporsi orang mengidentifikasi diri dengan Katolik turun dari 84,2 persen menjadi 78,3 persen antara dua sensus tahun 2011 dan 2016, dan turun menjadi 54 persen di antara orang yang berusia antara 16 dan 29. Mereka yang tidak memiliki afiliasi keagamaan meningkat menjadi 9,8 persen–lompatan 71,8 persen dalam lima tahun.

Di Skotlandia, negara lain yang kental dengan tradisi keagamaan mayoritas 59 persen, sekarang mengidentifikasi diri sebagai non-religius dengan lebih banyak perempuan (66 persen) daripada laki-laki (55 persen) yang berpaling dari keyakinan terogranisir. Tujuh dari 10 orang di bawah usia 44 tahun mengatakan bahwa mereka tidak beragama; satu-satunya kelompok usia di mana mayoritas berafiliasi dengan agama adalah berusia di atas 65 tahun.

Bagaimana dengan negara teokratis?

Republik Islam Iran mungkin adalah salah satu yang terlintas dalam pikiran. Sampai revolusi 1979, negara itu diperintah oleh Shah atau raja. Tetapi pemimpin negara baru itu adalah Ayotallah Ruhollah Khomeini, yang menerapkan sistem politik berdasarkan keyakinan Islam.

Teokrasi Islam lainnya adalah Mauritania, Arab Saudi, Sudan dan Yaman. Dua puluh tujuh negara mengabadikan Islam sebagai agama negara mereka.

Satu-satunya teokrasi Kristen adalah Kota Vatikan, pusat kecil tapi kuat dari Katolik Roma, di mana Paus adalah kekuasaan tertinggi dan mengepalai cabang eksekutif, legislatif dan yudikatif dari pemerintah Vatikan.

Tiga belas negara (termasuk sembilan di Eropa) menunjuk agama Kristen tertentu sebagai agama negara mereka. Di Inggris, Gereja Anglikan–Gereja Inggris—diakui sebagai gereja resmi negara yang “didirikan” dengan peran penting yang berkaitan dengan acara kenegaraan. Dua puluh satu uskup duduk di House of Lords di sebelah kanan.

Israel mendefenisikan dirinya sebagai “negara Yahudi”, dengan 80% populasi mayoritas Yahudi. Walau bagaimana pun pemerintahannya sekuler.

Pada 2015, lebih dari 100 negara dan wilayah tidak memiliki agama resmi atau pilihan.

Agama apa yang tertua dan apakah ada yang baru?

Dari beberapa tinjauan sejarah Hindu dianggap sebagai agama tertua di dunia, yang berasal dari sekitar 7.000 SM. Yudaisme adalah tertua berikutnya, yang berasal dari sekitar 2.000 SM, diikuti oleh Zoroastrianisme, yang secara resmi didirikan Persia pada abad ke-6 SM tetapi akhirnya diperkirakan berasal dari 1.5000 SM. Shinto, Buddha, Janisme, Konfusianisme, dan Taoisme berkumpul bersama sekitar 500-700 SM. Kemudian datanglah agama Kristen, diikuti sekitar 600 tahun kemudian oleh Islam.

Beberapa orang mungkin berpendapat bahwa agama terbaru bukanlah agama, meskipun istilah kafir sudah ada sejak lama dalam peradaban manusia. Tetapi secara berkala gerakan keagamaan baru bermunculan, seperti Kopimisme yang memuja nilai informasi dengan menggandakannya, mereka yang berafiliasi dengan Kopimisme telah diakui oleh pemerintah Swedia, lalu ada agama Internet, penyembah Monster Spaghetti Terbang atau Pastafarianisme (secara resmi diakui oleh pemerintah Selandia Baru), dan Terasem, sebuah agama transagama yang percaya kematian adalah opsional dan Tuhan itu teknologi.

Pada 2016, Temple of the Jedi Order, yang anggotanya mengikuti prinsip-prinsip keyakinan yang menjadi inti film star wars, gagal dalam upayanya untuk diakui sebagai organisasi keagamaan di bawah undang-undang amal Inggris. Namun dalam dua sensus terakhir, Jedi telah menjadi agama alternatif paling populer dengan lebih dari 390.000 orang (0,7 persen dari populasi) menggambarkan diri mereka sebagai Ksatria Jedi. Pada tahun 2011, jumlahnya menurun tajam, tetapi masih ada 176.632 orang yang mengatakan kepada pemerintah bahwa mereka adalah Ksatria Jedi.

Apakah agama berdampak pada dunia?

Tentu saja – ada konsekuensi besar bagi keyakinan dan praktik agama. Pertama, perang dan konflik yang tak terhitung jumlahnya memiliki dimensi religius yang terbuka atau terselubung sepanjang sejarah hingga saat ini. Dalam beberapa tahun terakhir, ekstermisme Islam misalnya dalam mengobarkan perang di Timur Tengah, perebutan kekuasaan antara Sunni dan Syiah di seluruh wilayah, penganiayaan terhadap muslim Rohingya di Myanmar, pemberontakan Boko Haram di Nigeria, bentrokan kekerasan antara Kristen dan Muslim di Republik Afrika Tengah. Perbudakan manusia, LGBT dianiaya, dan “penista agama” disiksa dan dibunuh atas nama agama.

Lalu ada dampak politiknya. Donald Trump memenangkan Pilpres 2016 dengan dukungan luar biasa dari orang Kristen evangelis kulit putih, Legislator di Argentina baru-baru ini memberikan suara menentang legalisasi aborsi di bawah tekanan dari para uskup Katolik dan paus. Perdana menteri sayap kanan Hongaria, Viktor Orban, telah mengutip perlunya melindungi “budaya Kristen” negaranya untuk membenarkan kebijakan anti-imigrasinya.

Tapi tidak semuanya berita buruk. Ada jutaan orang beriman di seluruh dunia yang terlibat dalam proyek aksi sosial untuk membantu orang miskin dan terpinggirikan. Lihatlah keterlibatan gereja, masjid dan sinagog di bank makanan dan proyek untuk mendukung pengungsi, gerakan gereja suaka di AS, jumlah luar biasa yang dikumpulkan oleh badan amal Islam untuk pekerjaan bantuan di beberapa tempat di dunia.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Lebih banyak prasangka dan penganiayaan. Pengikut sebagian besar dari agama populer dilaporkan semakin meningkatnya permusuhan dan, dalam banyak kasus terjadi kekerasan.

Umat Kristen telah diusir dari Timur Tengah, beberapa menyebutnya sebagai genosida baru. Sementara Antisemit dan Islamfobia sedang meningkat di Eropa. Salah satu pergolakan terbesar dalam lanskap keagamaan beberapa tahun ke depan kemungkinan besar dan patut dicemaskan bersama adalah kematian.