Kembali Menu
Gema.id
Memandang Neymar Bukan Sekadar Kepentingan Pasar bagi Paris Saint-Germain

Memandang Neymar Bukan Sekadar Kepentingan Pasar bagi Paris Saint-Germain

Memandang Neymar Bukan Sekadar Kepentingan Pasar bagi Paris Saint-Germain

Gema.id – Lampu sorot seakan tak pernah redup untuk Neymar, sebagai sosok figuran bukan hanya penampilan di atas lapangan yang kerap diperbincangkan tetapi kehidupan pribadi kapten timnas Brazil tersebut menjadi konsumsi publik.

Seumpama merek dagang, Neymar memiliki nilai jual tinggi, sesuatu yang benar-benar menguntungkan dari sisi komersial. Neymar adalah ‘merek yang berjalan’ menjadi ikon sekaligus alat promosi bagi siapa saja yang mengontraknya. Maka tak ayal, awal kedatangannya bergabung dengan Paris Saint-Germain diduga hanyalah untuk kepentingan pasar klub kaya raya tersebut dengan banderol selangit.

Ada alasan jelas mengapa begitu banyak orang tidak menyukai gaya mantan penyerang Barcelona ini, tak hanya di atas lapangan yang membuat banyak orang jengkel, meski memiliki skill individu di atas rata-rata, sebutan ‘”tukang diving’” juga sering disematkan.

Belum lagi kehidupan glamour sang pemain yang terlalu sering dipertontonkan di depan publik melalui platform media sosial pribadinya, mempertontonkan hasrat kebendaannya, sering berpesta dan berfoya-foya.

Kontroversi dan sensasi tak pernah jauh-jauh dari Neymar, hal yang di satu sisi bagi segmentasi pemasaran begitu diperlukan. Portofolionya menjadi iklan berbagai macam produk begitu banyak ditemui. Dari bintang iklan layanan keuangan hingga menjadi ikon iklan pembersih mulut disetujui sang bintang Brazil. Sesuatu yang telah meraup keuntungan 100 juta euro sejak memilih hijrah bersepakbola ke Eropa.

Hal yang tampaknya membuat banyak orang tidak menyukai Neymar. Mungkin itu konsekuensi utama dari iklan di mana-mana adalah semacam disorientasi. Mengapa orang membenci Neymar lalu menghiraukan bakat alami yang dimiliki sebagai pesepakbola.

Perasaan terbuang sepertinya kini dirasakan, Neymar yang seharusnya menjadi sesuatu yang menggembirakan di dunia sepak bola tak digubris. Di usia 28 tahun, karirnya menjadi identik dengan komoditas dan menjadi mesin komersial di masa-masa puncak karirnya bersama Paris Saint-Germain.

Di musim ini bersama Paris yang telah menyegel treble winner di ajang domestik, besar peluang untuk Neymar sekali lagi membuktikan bakatnya di level teratas, mengingat PSG yang sudah melangkah jauh hingga ke babak semifina Liga Champions—sesuatu yang selama 25 tahun belum dirasakan—berpeluang menyudahi rasa penasaran mereka merebut gelar.

Kontra Atalanta di babak perempat final, meski gagal mencetak angka dan melewatkan peluang emas, bakat Neymar pada laga tersebut kembali terpancar, dari torehan individu, ia mencatatkan 16 dribel sukses menjadi yang terbanyak di musim ini, mengirim satu assist memperpanjang nafas PSG dan menjadi salah satu kreator terciptanya gol kemenangan yang memulangkan wakil Italia tersebut.

Meski begitu, kritikan masih tetap saja dialamatkan pada talenta ini, performa apik saat berseragam Barcelona belum juga kembali ditunjukkan, konsisten pada level itu tidak lagi terlihat.

Padahal meski terlalu sering dibekap cedera yang panjang semenjak bergabung pada tahun 2017, di panggung Liga Champion Neymar memiliki 14 gol dan delapan assist dalam 18 pertandingan. Total secara keseluruhan semenjak bergabung bersama PSG Neymar mencetak 70 gol dan 40 assist, yang membuat Kylan Mbappe memujinya sebagai “pengumpan terbaik di dunia”.

Lagi pula di dua edisi sebelumnya saat Paris Saint-Germain gugur di babak 16 besar masing-masing kekalahan dari Real Madrid dan Manchester United Neymar tidak tampil penuh lantaran cedera, menghadapi Manchester United, Neymar sama sekali tidak tampil di dua pertemuan.

Kini saatnya dengan mengesampingkan kiprah Neymar di luar lapangan, saatnya salah satu talenta terbaik di sepakbola modern kembali menunjukkan pada dunia, mewujudkan proyek Liga Champions Le Parisien.