Kembali Menu
Gema.id
Menakar Kualitas Head to Head Kedua Incumbent Pilkada Selayar

Menakar Kualitas Head to Head Kedua Incumbent Pilkada Selayar

Menakar Kualitas Head to Head Kedua Incumbent Pilkada Selayar

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kepulauan Selayar resmi menyatakan menerima kelengkapan berkas administrasi dan memenuhi syarat pencalonan kedua pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilkada Kepulauan Selayar pada 9 Desember 2020 mendatang.

Yaitu pasangan Basli Ali-Saiful Arif (BAS) yang diusung oleh  Partai Golkar, PAN, PDI Perjuangan, NasDem dan Pasangan Zainuddin – Aji Sumarno (ZAS) yang maju melalui jalur perseorangan dan didukung oleh PKB, PKS dan Partai Demokrat.

Kedua pasangan calon adalah merupakan incumbent hasil Pilkada kepulauan Selayar 2015 (Basli Ali – Zainuddin) melalui kendaraan Partai Gerindra dan PKS yang kemudian menyatakan masing-masing maju dan pecah kongsi pada Pilkada 2020 dengan merangkul pasangan yang berbeda dan dipastikan akan menjadi pilihan tersendiri di hati rakyat Selayar, pasalnya latar belakang pasangan Zainuddin – Aji Sumarno (ZAS) adalah merupakan birokrat – akademisi dan Pasangan Basli Ali – Saiful Arif berasal dari politisi – tokoh agama.

Dengan melihat rekam jejak kedua pasangan calon akan sangat besar pengaruhnya terhadap masyarakat secara luas di Kabupaten Kepulauan Selayar karena akan dipengaruhi oleh tiga tipe karakteristik pemilih: pertama, pemilih intelektual yaitu melihat kualitas calon secara rasional biasanya ada pada kalangan mahasiswa kritis dan masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan akademik; kedua, pemilih Individualistik yaitu memilih berdasarkan kedekatan personal, keluarga, teman dekat dan kekerabatan termasuk juga didalamnya sebahagian ASN yang masih dibawah tekanan intervensi penguasa; ketiga, pemilih apatis yaitu memilih berdasarkan bayaran (buying voter) dan kepentingan sesaat biasanya kadang didapati pada anak-anak muda pengangguran, masyarakat dengan tingkat pendidikan dan ekonomi rendah dan terkadang di dapati pada pemilih pemula.

Untuk menakar kualitas nilai Demokrasi pada prinsipnya sangat identik dengan tiga tipical pemilih di atas karena Kabupaten Kepulauan Selayar secara umum adalah masyarakat yang beragama, beradat dan berbudaya yang juga seharusnya berimbas pada cara berperilaku poltik masyarakat ditempatnya, namun dalam prosesnya ada oknum-oknum pribadi yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh iklim demokrasi melalui hoaks, black campaign tanpa data, memfitnah dan mencela pasangan calon melalui media sosial dengan akun palsu, ini merupakan perilaku jahat demokrasi yang harus dicegah karena akan memicu konflik dan gesekan sosial serta iklim demokrasi yang tidak sehat dalam proses pilkada.

Setelah bakal calon pasangan Prof. Akbar Silo paket Dg Marowa gagal meramaikan bursa calon Kepala Daerah Selayar maka memaksakan Pertarungan dilaksanakan head to head yang pada prinsipnya tidak menyuguhkan variasi pilihan kepada masyarakat untuk menentukan Pemimpinya karena yang bertarung hanya dua pasangan calon yang juga keduanya adalah incumbent hasil pilkada 2015.

Trade record kerakyatan kedua incumbent selama lima tahun terakhir untuk Kabupaten Kepulauan Selayar sudah bisa dinilai dalam mewujudkan visi misi untuk rakyat dan daerahnya.

Munculnya kembali kedua incumbent dengan pasangan yang berbedah hampir dipastikan akan mempengaruhi elektabilitas keterpilihan kedua pasangan calon di pilkada tahun 2020, pasalnya wakil dari kedua incumbent adalah merupakan kontestan di Pilkada 2015 yang pada saat itu pasangan Saiful Arif – Muh Junaedy memperoleh 22,528 suara dan duet Aji Sumarno – Abd Gani meraup 20,011 suara, artinya masing-masing memiliki basis massa akar rumput.

Perolehan hasil suara akan banyak dipengaruhi pula oleh kerja-kerja politik Partai pengusung dan pendukung yang sudah diraup pada Pemilu 2019 kendati pun kampanye dilaksanakan di tengah adanya wabah pandemic Covid-19 yang sangat di batasi oleh regulasi dalam Peraturan Komisi Pemilihan Umum.

Dalam konteks masyarakat Selayar yang heterogen secara luas sangat berharap dan menanti adu program visi misi kedua pasangan calon, termasuk rekonstruksi keberlanjutan visi misi yang tidak dijamah oleh kedua incumbent pada periode sebelumnya, diantaranya anjloknya nilai beli hasil pertanian dan perkebunan lokal (kelapa, cengkeh), penegakan regulasi illegal fishing serta masih jalan ditempatnya program skala prioritas revolusi tani yang menyebabkan masih didatangkannya sebagian hasil sayuran dan beras dari kabupaten tetangga.

Kabupaten Kepulauan Selayar yang berada ditengah jalur lalu lintas Pelayaran nasional sebenarnya sangat memungkinkan dijadikan sebagai jalur persinggahan yang memungkinkan mendatangkan investor dari luar sekaligus mampu menjadi penyangga ekonomi rakyat kecil kebawah ditambah lagi melimpah ruahnya hasil laut dan spot destinasi pariwisata akan memungkinkan Kepulauan Selayar di sebut wilayah maritim yang mampu dilirik oleh investor secara nasional dan internasional.

Terobosan baru sangat dibutuhkan lahir dari visi misi kedua pasangan calon Bupati dan wakil Bupati pada pilkada tahun ini.

Carut marutnya pemilihan Kepala Desa (PilkaDes) pada akhir tahun 2019 sebagai sebuah bagian dan pembelajaran dari proses demokrasi di Kabupaten Kepulauan Selayar yang masih menyisakan kenangan buruk seperti money politik dan adanya anarkis pengrusakan fasilitas publik tidak menjadi miniatur yang mencederai marwah pada pilkada tahun 2020.

Andi Nasar kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *