Kembali Menu
Gema.id
Mengingat kembali Romantisme Mesut Ozil bersama Real Madrid

Mengingat kembali Romantisme Mesut Ozil bersama Real Madrid

Mengingat kembali Romantisme Mesut Ozil bersama Real Madrid

Gema.id – Untuk waktu yang tidak lama, salah satu sosok pesepakbola yang membuat saya begitu menikmati permainan ini dengan sangat terhibur, seperti menyaksikan pertandingan sepak bola selayaknya menonton pentas sirkus: akrobatik dan menawan.

Penonton dibuat terhibur, sementara sang pemain tak henti-hentinya terus menunjukkan penampilan memukau di depan jutaan penggemar yang memadati stadion.

Masa itu adalah ketika Mesut Ozil bintang asal Jerman kala merumput bersama Real Madrid selama tiga musim, saat itu Ozil benar-benar menunjukkan talentanya sebagai pesepakbola kelas wahid sebagai gelandang yang memainkan sepak bola dengan seni di lapangan tengah sekaligus menjadi otak bagi permainan Real Madrid saat itu. 

Kita tidak dapat menahan diri untuk melihat kembali ke masa ketika Mesut Ozil sedang dalam misi menaklukkan Liga Spanyol bersama Jose Mourinho dan mematahkan dominasi Pep Guardiola bersama Barcelona yang begitu tampil perkasa.

Di boyong dari Werder Bremen saat berusia 21 tahun usai memperkuat Jerman di Piala Dunia 2010, Ozil sempat diragukan di periode awal kehadirannya di Santiago Barnabeu di bawah asuhan Jose Mourinho, sosok manajer yang menerapkan disiplin tinggi dalam keseharian melatihnya, di sini Mesut Ozil justru menemukan bentuk terbaiknya saat diarsiteki pria Portugal.

Menjadi pengatur tempo, mengirim umpan tajam, menusuk dan sanggup membaca pergerakan rekan setimnya sebelum mengirim umpan berbuah gol adalah tipikal permainan Ozil, saat menggiring bola pun Ozil sering mempertontonkan teknik olah bola yang memukau.

Berkat penampilan sensasionalnya bersama Real Madrid, julukan disematkan pada pemain yang selalu tampil dengan ciri khasnya di lapangan hijau; rambut panjang yan terselip di belakang dengan ikat kepala, dengan julukan “El Buho”  bahasa  Spanyol yang jika diterjemahkan artinya Si Burung Hantu.

Hal ini bukan itu bukan tanpa alasan belaka, kejelian Ozil membaca situasi permainan dan ketajaman umpannya kepada rekan setim membuatnya menjadi figuran atas kesuksesan Jose Mourinho menaklukkan Spanyol.    

Sindrom musim ketiga Mourinho memang membuat masa bakti Ozil bersama Real Madrid terlihat berantakan, konflik internal Real Madrid sangat mempengaruhi penampilan tim sepanjang musim 2012-2013, seperti cucian kotor yang tak layak ditayangkan di depan umum.

Meski demikian torehan individu dan prestasi tak bisa disangkal, begitu pantas untuk menampilkan angka-angka hebat di La Liga dan Liga Champions dalam hal menciptakan kreasi.  Diberkati dengan kemampuan tak terduga untuk mematahkan garis pertahanan dengan satu umpan terobosan yang apik, bersanding dengan bakat untuk muncul ke ruang bebas, Ozil membanggakan bakat langka dan kemahiran yang mengalir.

Dibawa dari Werder Bremen seharga 20 juta euro, yang sekarang terlihat murah, Ozil adalah sensasional dalam sepak bola Jerman dengan dunia berada di kakinya. Pemain berusia 21 tahun itul melejit setelah kampanye gemilang Piala Dunia 2010, di mana klub-klub besar seperti Chelsea, Barcelona dan Manchester United mengetuk pintu klub Jerman Barat itu. Pelatih baru Real Madrid, Jose Mourinho harus melawan musuh bebuyutannya dari sisi lain Spanyol Pep Guardiola untuk mendapatkan tanda tangan magisterial Mesut, dan pria  Portugal itu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Tidak butuh waktu lama bagi Ozil untuk mulai beradaptasi dan menjadi jantung permainan raksasa Spanyol. Memberikan assist menakjubkan setiap detik, membuktikan mengapa permainan Spanyol cocok untuknya.

Kabar tentang kepindahannya ke Inggris tidak diterima dengan baik bagi punggawa Real Madrid, salah satunya adalah Cristiano Ronaldo yang mengungkapkan: “Penjualan Ozil adalah kabar buruk bagi saya. Dia adalah pemain yang tahu gerakan saya di depan gawang. Aku marah karena Ozil pergi,” ungkap Ronaldo kala itu.

Tidak ada yang bisa menyalahkan Ronaldo, sang mega bintang tenggelam dalam kesedihan mengenai kepergian pemain Jerman itu. Lagipula, keduanya menjalin kemitraan sejak hari pertama mereka merumput di lapangan hijau dan tampak mereka seperti memiliki hubungan telepati, membantu 34 gol satu sama lain dalam tiga musim. Pasti membuat orang bertanya-tanya apakah kepahlawanan Ronaldo di Madrid bisa menjadi lebih baik dan spektakuler jika Arsenal tidak datang meminangnya.

Ozil tampaknya selalu memainkan peran dalam gerakan lambat dan yang memungkinkan dia mengambil detik ekstra untuk melihat langkah Ronaldo sebelum akhirnya mengirim umpan penting untuk mendulang angka.

Mesut Ozil, meluncur melalui lini tengah dengan peran seperti Di Maria dan Ronaldo berlari di depannya, membuat 24 assist di musim pertamanya di Santiago Barnabeu. Jumlah ini masih bertahan sebagia rekor assist terbanyak selama semusim dalam sejarah La Liga, bukti performanya yang fenomenal untuk Los Marengues di musim 2011/2012 dengan memakai nomor punggung 23.

Musim berikutnya,Ozil mengenakan No.10, Ozil menghasilkan jumlah assist tertinggi keduanya dalam satu musim, dengan memberikan 20 asisst. Untuk dua musim berturut-turut, pemain internasional Jerman itu keluar sebagai pemberi assist tertinggi di divisi teratas Spanyol. Singkatnya, Mesut Ozil menjadi rekan impian semua penyerang dan mimpi buruk bagi lawan ketika bola berada dalam kendalinya.

Musim ketiga, bagaimanapun diwarnai oleh kontroversi di Real Madrid dan performa kurang menonjol di musim 2012/2013 mencuat. Dia terlambat panas dan kembali menemukan dirinya menjadi pilihan Mourinho di paruh kedua musim itu, segalanya membaik—di lapangan, setidaknya—Ozil akhirnya kembali memperlihat kreasinya dengan menciptakan peluang paling jernih dari pemain mana pun di lima liga teratas Eropa.

Kepergiannya memang menjadi aneh untuk disaksikan, mengingat besarnya dampak yang dibuat di Spanyol dan terus terang Ozil sendiri sangat sedih ketika dia tahu, dia harus mengemasi tasnya.

Begitupula dengan para Madridista kepergian Ozil secara tiba-tiba, tanpa ada kata perpisahan untuk kerelaan melepas dan persembahan terakhir dari sang magestrial Mesut . 

Meninggalkan Real Madrid adalah keputusan yang tersulit dalam hidup saya bukan rahasia lagi, jantung saya berdebar untuk Real Madrid. Saya bermimpi memenangkan Liga Champions bersama Real Madrid.

Jika ditanya tentang pencapaian terbaiknya, jawaban kreator Jerman kemungkinan besar menjadi kemenangan Piala Dunia tahun 2014, tetapi sama sekali tidak dapat disangkal bahwa dunia belum pernah melihat Ozil yang lebih berkomitmen dan konsisten bermain di bawah Jose Mourinho dibandingkan para manajer yang mengausuhnya sebut saja, Arsene Wenger dan Joachim Low.

Mesut Ozil dengan kemeja putih No 10 dengan rambut diikat ke belakang, berdiri di tengah lapangan, kepala tertunduk dan dalam doa akan selalu menjadi salah satu gambar paling ikonik di zaman kita.