Kembali Menu
Gema.id
Mini Market Jepang Berhenti Menjual Majalah Porno Jelang Olimpiade dan Piala Dunia Rugbi 2019

Mini Market Jepang Berhenti Menjual Majalah Porno Jelang Olimpiade dan Piala Dunia Rugbi 2019

Mini Market Jepang Berhenti Menjual Majalah Porno Jelang Olimpiade dan Piala Dunia Rugbi 2019

(Gema – Tokyo) Jepang terkenal sebagai negara yang sangat longgar mengatur masalah pronografi. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya kontent seksual yang dijajakan dengan bebas sampai di mini market sekelas 7-Eleven dan Japan Co.

Namun sebuah gerakan yang diprakarsai oleh dua perusahaan ritel terbesar di Jepang ini akan menghentikan penjulan majalah porno di jejaring mereka. Langkah ini dimabil untuk menyambut dua event internasional besar di Jepang yakni Olimpiade Tokyo dan Piala Dunia Rugby 2019.

Dua perusahaan ini merupakan perusahaan besar yang memiliki 34.000 jaringan toko di Jepang. Mereka akan membantu gerakan yang membersihkan citra Jepang sebagai negara pengeksploitasi wanita sebagai objek seks dengan menghentikan penjualan majalah Porno.

Hal ini tentu saja disambut baik oleh lembaga sosial Human Rights Watch Jepang.

“ini tentu saja langkah yang akan disambut dengan baik,” jelas Kanae Doi, selaku Direktur Human Rights Watch, seperti yang dilansir dari Thomson Reuters Foundation.

Kanae Doi juga mengatakan jika hal tersebut dianggap sudah sangat memalukan. Perempuan sudah dianggap sebagai objek pelampiasan syahwat bahkan di negara modern sekelas Jepang.

“sudah sangat memalukan, Anda dapat melihat pornografi di setia sudut di Jepang. Perempuan dianggap sebagai objek seks dan tidak mendapatkan perlkuan yang setara,” jelas Kanae Doi.

Pada kesempatan terpisah pada hari selasa (22/1/2019), dua perusahaan ritel tersebut mengumumkan bahwa keputusan ini diambil agar tokoh mereka lebh ramah keluarga dan juga mengantisipasi Shock culture dari Wisatawan yang datang dalam dua acara internasional besar yang akan diadakan.

Jika sebelumnya, Toserba dan Minimarket dalam jaringan 7 Eleven sudah terkenal menjajakan kopi, alkohol, makanan beku, dan majalah dewasa di Rak Etalase, menjelang dua even internasional ini, jaringan akan mulai menyetop hal tersebut.

Hal Yang Lumrah

Pornografi di Jepang menjadi hal yang lumrah di Jepang, bahkan industri pornografi di Jepang menjadi Industri paling besar di dunia. Pornografi bisa ditemukan di banyak bentuk di Jepang tidak hanya majalah, Komik, film-film, Adult dan seks Toy bahkan sampai layanan seksual wanita tanpa melibatkan senggama juga dilegalkan di Jepang.

Banyaknya kontent pornografi ditengarai menjadi penyebab banyak kekerasan seksual terhadap wanita di Jepang. Bahkan Jepang menjadi negara terakhir yang melakukan kriminalisasi terhadap pemilih konten pornografi anak di bawah umum pada tahun 2014.

Banyak penerbit menentang keputusan tersebut karena dianggap sebuah bentuk pembatasan terhadap kreatifitas dan ekspresi.

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe sudah melakukan kampanye untuk meningkatkan status sosial dari wanita di Jepang namun dalam hal kesetraan Gender ternyata Jepang masih berada di peringkat 110 dari 149 negara dalam laporan Global Gender Gap 2018 Forum Ekonomi Dunia.

Industri yang Menggiurkan.

Besarnya konten pornografi di Jepang dipengaruhi oleh besarnya nilai uang yang berputar di industri pornografi. Bahkan lebih dari 500 wanita di Jepang memutuskan untuk terjun di industri film dewasa, sedangkan dunia esek-esek terselebung hampir tidak terdata sama sekali.

Godaan materi di Industri pornografi tidak hanya membuat wanita yang putus asa mencari pekerjaan layak di Jepang untuk terjun dibasahnya industri pornografi, namun juga sudah melanda banyak artis dan penyanyi Jepang.

Risa Naruse Seksi Eks Akb 48 jadi Porn Star JAV Jepang
Risa Naruse Eks Member AKB48 yang Memilih Menjadi JAV Star

Eks Anggota AKB 48 misalnya, banyak menjadi sorotan karena lebih memilih menjadi JAV Star karena tergiur bayaran yang jauh lebih besar dibandingkan dengan dunia koreogarfi dan tarik selama jadi member AKB 48.