Kembali Menu Beranda
Gema.id
MU atau Mou?

MU atau Mou?

MU atau Mou?

Gema – Brighton menusukkan tiga bilah pisau ke dalam tubuh MU. Tusukan itu telah menorehkan luka yang perih. Kekalahan 3-2 di pekan kedua, bukan hanya di luar prediksi, bahkan pulang dengan nihil poin seakan menunjuk muka para Manchunian: ‘musim ini bakal nirgelar lagi..!?’.

Memang perjalanan masih panjang. Liga masih tersisa 36 pertandingan. Tapi, apesnya, semalam ‘tetangga berisik’ menang dengan skor telak 6-1 melawan Huddersfield Town. Itu sudah cukup untuk jadi bekal haters tertawa keras.

Mou terlalu idealis

Kata Shearer, “Jose Mourinho bisa kehilangan pekerjaannya jika ia terus idealis dengan pendiriannya. Menurutnya, Mou salah dalam memperlakukan pemainnya. Ia menunjuk Pogba dan Martial sebagai sosok yang telah jadi korban oleh perlakuan Mou.”

Shearer tidak sekadar menunjuk Mou sebagai biang kekalahan MU. Ia justru menilai bahwa Mou terlalu menaruh perhatian untuk mendatangkan pemain baru, padahal skuad yang dimilikinya sudah lengkap dan mumpuni.

“Ketika anda melihat Mourinho saat dia pertama kali datang ke Liga Premier, dia sangat senang. Walau dia terkadang kurang ajar, dia selalu tersenyum, dia adalah orang arogan dengan caranya yang baik. Tapi setiap kali anda melihatnya sekarang, dia selalu megerutkan kening, dia sering marah dan dia selalu ingin menjauh dari semua orang”, ujar Shearer dikutip dari laman setanmerah.net.

Opini legenda Newcastle itu cukup beralasan. Kegagalan MU kala didepak oleh Sevilla (1-2) di 16 besar Liga Champion. Mei lalu, MU kembali galal mengangkat Piala FA setelah ditekuk dengan skor 0-1. Dan rentetan hasil minor di laga pramusim, adalah indikasi yang tak terbantahkan kalau MU sama sekali belum keluar dari masa labil.

Tapi, apakah Mou adalah satu-satunya yang harus disalahkan?

Sindrom musim ketiga?

Ada asumsi berbau drama yang muncul pasca kekalahan MU: sindrom musim ketiga. Melihat perjalanan karirnya, Mourinho memang kerap tersandung pada musim ketiganya di sebuah klub. Kisahnya dimulai saat menangani Chelsea di musim ketiga. Kala itu, ia berselisih dengan bos Abramovich karena tidak memainkan Andriy Shevchenko.

Di Inter Milan, Mou bahkan tercatat meninggalkan pekerjaannya dalam kondisi grafik yang menurun, setelah hijrah ke Madrid. Padahal, sebelumnya ia telah memenangkan Liga Italia, Coppa Italia dan Liga Champion pada musim keduanya bersama Inter.

Perjalanan karirnya di Madrid juga mengalami penurunan di musim ketiga. Setelah mengalami perselisihan dengan Ronaldo, Ramos dan Casillas, ia pun memilih mundur dan rujuk kembali dengan klub lamanya, Chelsea di 2013.

Kini, Mou memasuki musim ketiganya di MU. Gejala sindrom itu mulai mengemuka. Kegagalan dalam bursa transfer dan kabar cekcoknya dengan beberapa pemain utama, Pogba dan Martial, semakin memunculkan spekulasi sndrom musim ketiga.

Tapi, jika benar sindrom ini kembali menimpa Mou, betapa sialnya MU. Bahkan, bersama MU, ia sama sekali masih nir-gelar.    

Mengganti Mou?

Kalah dari Brighton kontan menghadirkan kembali spekulasi terhadap masa depan The Special One. Lalu, nama Zidane kini dikaitkan sebagai sosok suksesor yang paling potensial untuk menggantinya.

Pertanyaannya adalah, apakah Zizou punya formula untuk seketika mengeluarkan MU dari lubang keterpurukan? Zizou boleh saja punya pengalaman ‘wah’ di Madrid, tapi di sana bukan Liga Priemer. Dan kedalaman skuad Los Blancos membuatnya tak memiliki kesulitan dalam mementukan starting eleven.

Praktis, hingga ia memilih pensiun, Zizou di Madrid sama sekali belum pernah dihadapkan pada situasi sulit seperti Mou di MU.  Nah, kalaupun desakan untuk mendepak Mou tak terbendung, kuatirnya, MU lagi-lagi akan mengulang kembali kesalahan-kesalahan dalam pergantian pelatih, terutama karena timing yang tidak tepat.

Dulu, hanya karena rekomendasi Fergie, akhirnya manajemen MU menunjuk David Moyes sebagai pelatih baru. Per 1 Juli 2013 ia menyepakati kontraknya selama enam tahun. Hasilnya, Moyes justru terlihat seperti orang baru di Priemer League. Prestasinya yang dengan skuad seadanya berhasil menjaga Eeverton menjadi tim yang konsisten berada di papan tengah, justru tak ada apa-apanya kala menukangi MU.

Tak ada maaf bagi Moyes. Sepuluh bulan rasanya terlalu lama ia di MU yang seperti kehilangan mental juara. Ia dipecat sebelum masa kontrak habis. Tapi, pemecatan Moyes ternyata bukan solusi kebangkitan MU. Buktinya, meski tetap berada di empat besar liga dan berhasil membawa trophy FA 2015/2016 ke dalam lemari Setan Merah, Van Gaal pun mengikuti jejak Moyes, dipecat sebelum masa kerja usai.

Jika melihat riwayat pemecatan pelatih pasca-Fergie, MU terlihat lebih suka menimpakan kesalahan kepada pelatih, ketimbang mematangkan pasukannya di lapangan hijau.

Bagaimanapun, situasi sulit yang menimpa MU kini tak boleh dilihat sebagai kesalahan pribadi Mou. Sebagai manajer, ia seharusnya diberi ruang lebih luas untuk mengatur anak buahnya. Bagaimanapun, ia adalah pemimpinnya, ia adalah roh tim.

Menggantinya di tengah perjalanan sama saja memupus upaya keseluruhan skuad yang saat ini dalam tahap pembelajaran untuk mengasah diri dan kekompakan tim. Tak perlu ada keraguan dengan apa yang telah dilalui oleh Mou dan apa yang direncakannya bersama MU.

Begitu pula dengan para pemain. Apa yang dilakukan oleh Pogba, Lukaku, Lingard dan lainnya di Piala Dunia Rusia lalu, seharusnya tak perlu membuat para fans risau.

Lalu, apa yang mesti dikuatirkan oleh MU? Mereka hanya perlu terus bekerja keras, karena level Liga Priemer Inggris kenyataannya berkembang pesat. Tak ada tim yang benar-benar berada pada posisi aman di Liga Inggris.So, mari kita tunggu pekan ketiga kala MU berhadapan dengan Tottenham.