Kembali Menu
Gema.id NTT
Bukan ‘Jurrasic Park’, Pemerintah Klaim akan Bangun Ekowisata di Pulau Rinca

Bukan ‘Jurrasic Park’, Pemerintah Klaim akan Bangun Ekowisata di Pulau Rinca

Bisnis Lokal
Bukan ‘Jurrasic Park’, Pemerintah Klaim akan Bangun Ekowisata di Pulau Rinca

Kekhawatiran atas keselamatan komodo yang terancam punah meningkat baru-baru ini setelah foto komodo menghadapi truk proyek di Pulau Rinca provinsi Nusa Tenggar Timur itu menjadi viral di media sosial.

Pemerintah Nusa Tenggara Timur membantah menggunakan pulau dinasourus fiksi “Jurassic Park” sebagai inspirasi di balik pembangunan proyek pariwisata di pulau itu, tempat yang merupakan rumah bagi komodo yang dilindungi.

“Konsep pembangunan di Pulau Rinca ini berbasis ekowisata, bukan Jurrasic Park,” kata juru bicara pemerintah NTT Maris Jelamu.

Awalnya branding Jurrasic Park yang berasal dari franchise fiksi ilmiah populer Hollywood dengan nama yang sama—pertama kali diciptakan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan, yang pada Oktober tahun lalu mengatakan bahwa lokasi wisata di sekitar Pulau Komodo akan dibangun menjadi sebuah pusat penelitian yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Lalu diperkuat oleh unggahan Fania Hafila seorang arsitek yang mengunggah video animasi rencana pembangunan bertajuk “Jurrasic Indonesia Tourism” di Instagram. Logo Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ditampilkan di akhir video.

Pada bulan September juga arsitek Yori Antar dari PT HAN AWAL, perusahaan yang bertanggung jawab atas desain proyek pengembangan Pulau Rinca, menggunakan branding serupa, dengan mengatakan bahwa proyek pariwisata Jurrasic bertujuan untuk memfasilitasi peningkatan jumlah pengunjung.

Marius menuturkan, proyek Pulau Rinca hanya akan dibangun di atas lahan seluas 5 hektare dari 20.000 hektare lahan pulau itu.

Proyek tersebut meliputi perbaikan infrastruktur dan fasilitas yang rusak, termasuk renovasi dermaga di sepanjang garis pantai pulau, dek yang ditinggikan untuk melihat komodo, gedung penjaga, pusat informasi, restoran, serta homestay dan resor.

“Nanti pengunjung tidak perlu melihat komodo dari dekat, teknologi akan disiapkan agar mereka bisa melihat komodo dari jauh,” kata Marius.

Dengan fasilitas baru tersebut, pemerintah berharap pulau Rinca berkembang menjadi pusat ekonomi baru seperti Labuan Bajo yang menjadi destinasi wisata “Super premium”.

Pengembangan tersebut juga merupakan bagian dari persiapan menyambut ribuan orang selama KTT ASEAN dari pertemuan G20 pada 2023, karena Labuan Bajo diharapkan menjadi tuan rumah acara tersebut, kata Marius.

Ia memberikan jaminan bahwa masyarakat lokal akan dilibatkan dalam proyek tersebut, bukan direlokasi dari Pulau Rinca.

Pemerintah NTT telah meminta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memperhatikan kelestarian populasi komodo di kawasan tersebut.

“Masih ribuan hektare tersedia untuk konservasi 1.300 ekor komodo di Pulau Rinca,” kata Marius seperti dikutip tempo.co.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) NTT, Umbu Wulang mengatakan pihaknya tidak setuju dengan proyek tersebut karena tidak berbasis keilmuan dan justru berfokus pada branding untuk keperluan bisnis.

Umbu khawatir proyek tersebut akan membahayakan hewan endemik di kawasan itu dan mempengaruhi dinamika ekosistemnya.

“Walhi NTT menolak pembangunan infrastruktur skala besar dan keserakahan akan tanah atas nama investasi pariwisata,” kata Umbu,s seraya menambahkan bahwa pemerintah seharusnya mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *