Kembali Menu
Gema.id
Onde-Onde : Budaya Animisme Nusantara dan Klepon yang Tidak Islami

Onde-Onde : Budaya Animisme Nusantara dan Klepon yang Tidak Islami

Onde-Onde : Budaya Animisme Nusantara dan Klepon yang Tidak Islami

Jauh sebelum Islam datang, mayoritas masyarakat nusantara telah menganut kepercayaan Anismes dan Dinamisme. Kepercayaan ini tersebar hampir di seluruh nusantara dengan motif yang sama hanya dengan lafalan mantra dan bacaan yang berbeda sesaui dengan budaya dan kearifan lokal masing-masing daerah.

Animisme dan Dinamisme adalah kepercayaan yang jauh berbeda dengan ajaran Agama Samawi yang mempercayai bahwa ada tuhan tunggal yang mengatur seluruh alam semesta dengan isinya. Dua kepercayaan tersebut nyaris percaya jika setiap tempat, kegiatan dan kejadian selalu ada roh yang bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

Mereka adalah roh yang bisa saja baik namun bisa jadi jahat dan kerjanya menggangu kehidupan manusia. Biasanya roh yang baik akan diberi hadiah dalam bentuk sesajen seperti pada pesta panen raya yang selalu disemati dengan berbagai sesajen ke roh yang telah menjaga hasil panen hingga bisa dinikmati masyarakat.

Sedangkan roh jahat akan menjadi momok yang menakutkan dan membuat kegiatan manusia terbatas, jika terpaksa harus berurusan dengan roh-roh jahat, maka tidak jarang tumbal harus dikorbankan. Tumbalnya pun mulai dari menyembelih ayam, kambing, kerbau sampai manusia jika memang harga yang ingin ditebus sangatlah besar.

Klepon dan Syirik

Selain roh baik dan roh jahat, menurut kepercayaan yang ada di sekitar tempat saya tinggal di daerah Sulawesi Selatan, ada roh yang menurut saya kurang kerjaan, dimana mereka bisa jadi jahat atau iseng menganggu kehidupan seseorang atau tiba-tiba jadi baik tergantung dari apa yang sedang diperlakukan kepadanya.

Saya sering mengejeknya sebagai roh pengangguran. Bagaimana tidak saya berkata seperti itu, mereka akan jadi satpam ketika dapat sajen dan jadi rese jika tidak dapat makan, meskipun sekedar klepon saja.

Misalnya saja roh penjaga ruma yang akan mengawal kita selama tingal disana jika kita menyuguhkan kelpon di awal pindah rumah dan menjadi preman jika kita langusng nyelonong saja masuk di rumah tanpa permisi terlebih dahulu. Hal ini terlihat seperti kontra dengan si roh penjaga rumah, jika kontraknya tidak ada, maka roh berubah menjadi preman jahat yang memang sih tidak membakar rumah dan isinya tapi bakalan usil menjahili penghuni rumahnya.

Hampir semua roh sejenis pengaja rumah ini memiliki kaitan erat dengan kue klepon yang saat ini viral. Utamanya daerah yang ada di Sulawesi Selatan, bahkan setelah Islam diakui sebagai agama yang benar, praktis-praktis pemujaan para lelembut ini tetap saja dilakukan.

Bedanya mungkin hanya dari segi bacaan yang awalnya menggunakan mantra berbahasa daerah kini dirapalkan dengan bahasa Arab yang sebagian penggalannya dicomot dari Al-Qur’an padahal, Nabi Pembawa Islam saja tidak pernah memberikan petunjuk tentang berdoa kepada Roh Penjaga Rumah.

Jika kita ingin melihat kepercayaan orisinil daerah Sulawesi Selatan yang masih bertahan, mungkin salah satu daerah yang berada di bagian utara kota Makassar masih bisa ditemukan. Letaknya mungkin bisa disebut di tengah-tengah Sulawesi Selatan. Terletak di tanah persawahan yang subur dan dipaku sedikit tebing-tebing batu pendek.

Daerah tersebut terkenal dengan masyarakat yang masih menjaga teguh kepercayaan nenek moyang. Berdoa di antara pohon besar, batu dan pegunungan, dengan rapalan-rapalan doa yang sama persis dengan apa yang terpampang di kitab mereka.

Berbeda dengan pemeluk Islam terasimilasi animisme, orang-orang ini sudah memeluk Islam sebagaimana yang diajarkan oleh sang pembawanya. Hanya saja mereka sedikit belum rela meninggalkan kepercayaan nenek moyang. Mereka masih senang kena pajak selain dari petugas pajak saat membangun rumah atau panen raya, makanya mereka akan membayar upeti ke berbagai macam lelembut.

Jadinya mungkin agak sedikit unik, Islamnya tetap dihati, tapi bolehlah dinegosiasi sistem bayar sesajennya. Ditawar mulai dari semeblihan dihilangkan sampai mantranya yang dulu dirapal menggunakan bahasa daerah, kini dibunyikan dalam bahasa Arab dengan kumpulan penggalan surah dari Al-Qur’an. Indonesia memang unik, mereka boleh merubah aturan pakem yang mereka tidak buat.

Kembali lagi ke Klepon, penganan yang dibuat dari adonan tepung beras yang dibentuk bulat-bulat untuk menutupi potongan gula merah sehingga tersembunyi utuh di dalamnya. Setelah dibentuk klepon ini direbus sampai matang lalu ditiriskan dan dibaluri dengan parutan Kelapa. Rasanya itu nikmat apalagi ketika Gulanya Crot di dalam pada saat digigit.

Sebagian besar daerah menyebut kue ini sebagai onde-onde, kecuali orang yang tinggal di Jawa bagian barat, mereka lebih senang menyebutnya Klepon. Masyarakat di Sulawesi Selatan sendiri juga mengenalnya dengan sebutan Onde-onde, tapi mereka lebih senang menyebutnya umba-umba.

Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, Umba-umba atau Klepon lebih dari sekedar onde-onde, ada banyak hal yang diasosiasikan dengan penganan manis ini dan kebanyakan dari asosiasi tersebut adalah sesajen tolak bala. Tolak bala ketika masuk rumah atau membeli kendaraan baru.

Entah kepada siapa Umba-umba itu ditujukan, namun jika ditujukan kepada sang Pencipta, sepertinya ini adalah perbuatan mendiskreditkan sang pencipta yang seperti meminta bayaran agar hidupmu selamat dengan barang baru, berbeda dengan penrintah berkurban yang jika tidak dilaksanakan maka tidka ada ancaman hidup akan digangu selain, ibadah-ibadah yang lain tidak akan diterima, itupun hanya berlaku bagi yang mampu saja.

Tapi kehadiran Umba-umba di kehidupan orang-orang Islam di Sulawesi Selatan, tujuannya jelas untuk menolak sial selama menggunakan barang baru tersebut atau tinggal di dalam rumah baru. Jika memang tidak ada hubungannya dengan ritual menolak sial, mengapa kuenya harus Umba-umba, tidak diganti dengan Oreo Supreme mungkin yang lebih glamour dan elegan kecuali ada aturan yang mengharuskan kue itu harus umba-umba.

Hal inilah yang membuat Umba-umba akan hadir di tengah rumah atau possi bola yang secara etimologi diartikan pusatnya rumah ketika rumah atau kendaraan tersebut diresmikan sembari berdoa dalam bahasa Arab dengan niat yang berbeda antara dilafalkan dan yang ada di dalam doa, terkadang sih diujung doa-nya akan terdengar seruan untuk membaca Alfatihah.

Uniknya adalah mereka para praktisi budaya bernafaskan agama ini sama-sama yakin bahwa tidak ada zat yang paling pantas dimintai pertolongan kecuali sang Pencipta. Mereka juga sama percayanya bahwa meminta selain kepada-Nya adalah perbuatan Syirik, apalagi jika ditambahkan seserahan berupa Klepon.

Jadi wajar donk jika menyebut Klepon itu Jajanan yang tidak Islami?

Saya hanya ingin meberikan penjelasan disini jika pisau yang digunakan seorang pembunuh untuk menikam korbannya hingga tewas statusnya bukanlah tersangka tapi barang bukti. Jika pisau tersebut digunakan untuk memotong hewan kurban dengan syariat yang benar maka bukan pisaunya yang Islami jadi orangnya.

Jadi menuduh Klepon tidak Islami kemungkinan hanya dilakukan oleh orang-orang kurang piknik kendati kue ini sering kali dijadikan sesajen di acara Mattama Bola dan Mambungasa Oto. Bahkan saya sendiri berpendapat seharam-haramnya Anjing, tidak pernah ada satu ulama besar pun yang mengatakan jika Anjing itu tidak Islami karena perintah masuk Islam itu memang hanya untuk manusia saja, bukan untuk Anjing apalagi Klepon.

Klepon itu tugasnya hanya untuk dimakan, terlebih rasanya memang nikmat apalagi jika dinikmati sambil mengetik Opini ini, gulanya bisa crot di dalam.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *