Kembali Menu
Gema.id
Orange Economy: Kreatifitas Tak Terbatas Penggerak Ekonomi Global

Orange Economy: Kreatifitas Tak Terbatas Penggerak Ekonomi Global

Orange Economy: Kreatifitas Tak Terbatas Penggerak Ekonomi Global

Penyerapan tenaga kerja masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk mengurangi kesenjangan yang terjadi. Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat sebanyak 29,12 juta penduduk usia kerja menganggur akibat pandemi COVID-19. Angka ini tentu saja menjadi prioritas utama pemerintah agar segera diselesaikan dan menstabilkan perekonomian kembali.

Sebelumnya, meski sempat mendapatkan penolakan pemerintah telah mengesahkan UUD Omnibus Law Cipta Kerja untuk membuka peluang pintu kerja dengan asumsi mengundang investasi sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi.

“Pertumbuhan nilai investasi itu akan berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, di mana ekonomi nasional diyakini akan mencapai 5,7 persen sampai 6 persen per tahun. Sehingga dengan demikian, maka akan tercipta 2,7 juta hingga 3 juta lapangan kerja baru per tahun,” kata Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah.

Tidak hanya membikin regulasi, pemerintah pun tahun ini terus mengencangkan ikat pinggang demi memulihkan ekonomi setahap demi setahap dengan perkiraan nantinya membaik di kuartal III-IV 2021. Beberapa sektor ekonomi terus didorong, seperti industri pariwisata dan manufaktur agar beradaptasi dengan cara-cara baru. Selain dua sektor tadi, industri kreatif juga dimintai agar terus produktif. Untuk sektor ini dalam beberapa tahun terakhir memang selalu digalakkan. Karena banyak-banyak menciptakan lapangan kerja baru.

Istilah ekonomi kreatif dalam beberapa tahun belakangan sangat populer, menjadi penggerak roda perekonomian. Meski ekonomi dunia sering mendapatkan terpaan di fase-fase krisis, seperti saat ini, buktinya sektor ini mampu bertahan untuk terus bergerak. Apa yang membuatnya demikian? Berbeda dengan industri ekonomi lainnya, aktivitas sektror ini mengubah ide menjadi barang dan jasa kreatif.

Setumpuk ide-ide cemerlang yang mengendap di kepala yang dikeluarkan lalu ditukar dengan uang, begitulah ekonomi kreatif bekerja menghidupi para pelaku usahanya.

Sementara definisi lebih kompleks tentang ekonomi kreatif diberikan oleh John Hawkins, salah satu peneliti paling berpengaruh pada topik tersebut, ia mencacah ke dalam beberapa bagian pekerjaan di antaranya arsitektur, seni visual dan pertunjukan, kerajinan tangan, film, desain, penerbitan, penelitian, musik, periklanan, perangkat lunak, TV, radio dan videogame.

Tidak hanya itu, dalam pengkajiannya ekonomi kreatif memiliki istilah tersendiri “Orange Economy”. Sementara UNESCO memberi penekanan, menurutnya ekonomi kreatif adalah pangsa yang mempertemukan sektor-sektor ekonomi dengan tujuan utamanya adalah produksi atau reproduksi, promosi penyebaran dan/atau pemasaran barang, jasa dan kegiatan yang memiliki nilai budaya, seni atau konten patrimonial.

Ekonomi Oranye; Ekonomi Ceria

Simbol ekonomi kreatif lebih memilih warna oranye dibandingkan dengan warna merah untuk menguatkan identitasnya, padahal warna merah sering dihubung-hubungkan dengan keberanian, sesuatu yang amat perlu dimiliki dalam berbisnis. Mengapa warna jeruk peras lebih dipilih?

Warna oranye sering diasosiasikan dengan kebudayaan, kreativitas dan identitas. Pada zaman dahulu kala, para seniman Mesir kuno menggunakan pigmen oranye (dikenal sebagai realgar, sulfur arsenik yang sangat beracun) untuk dekorasi hieroglif pada makam piramida Firaun. Sementara tradisi di Barat mengasosiasikan warna ini dengan hiburan.

Berbeda dengan Barat, kebudayaan Asia menggunakan oranye sebagai simbol transformasi. Dalam pembacaan karakter orang-orang yang menyukai warna oranye dianggap pembelajar dan pemimpin. Oranye juga sering diasosiasikan dengan api, dan tak terhitung banyaknya metafora tentang api kreatif dan api gairah. Karena ekonomi kultural dan kreatif memerlukan identitas. Itulah sederet alasan mengapa disebut Orange Economy.

Menurut buku “The Orange Economy: An infinite Opportunity”, yang ditulis oleh Felipe Buitragano Restrepo dan Ivan Duque Marquez, kretatifitas yang tak terbatas menjadi kunci dalam ekonomi oranye. Perdagangan barang dan jasa kreatif –selanjutnya disebut midfactures—telah mengalami dekade yang sangat baik: dari tahun 2002 hingga 2011 ekspor tumbuh 134% menurut Konfrensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD), jika kita memasukkannya ke dalam sistem klasifikasi International Trade Center (ITC) mereka akan menjadi komoditas kelima yang paling banyak diperdagangkan di planet ini.

Pada 2011, ekspor barang dan jasa kreatif mencapai 646 miliar dollar, tetapi layanan tumbuh 70% lebih cepat daripada barang karena transaksi ini semakin banyak dilakukan melalui internet.
Perdangangan kreatif tidak terlalu bergejolak dibandingkan perdagangan komoditas atau bahan mentah. Buktinya adalah ia mampu mengatasi krisis keuangan global lebih baik daripada sektor-sektor seperti minyak. Sementara penjualan dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat penurunan 40% pada 2009 ekspor barang dan jasa kreatif hanya turun 12%.
Maka dari itu para pelaku ekonomi kreatif tidak mesti menjadi yang terbesar cukup mampu beradaptasi dengan perubahan dengan ide-ide cemerlang untuk selalu merayakannya. Mengutip Frank Sinatra, bahwa “oranye adalah warna yang paling ceria.”

Kesempatan Tak Terbatas

Segmen dengan beberapa peluang investasi terbesar termasuk bioskop, seni pertunjukan dan audiovisual, IT dan produk perangkat lunak, sektor penerbitan, videogame, kerajinan tangan, perhiasan dan desain.

Perusahaan internasional seperti Discovery Networks, Jumio, HBO, Sony Pictures, Jam City, Accenture, Belatrix, Quad Graphics, Telmex dan Grupo Cisneros termasuk di antara investor asing yang bertaruh pada ekonomi oranye dengan dan menyasar pasar global.

Mereka melihat ada potensi yang sangat besar untuk pertumbuhan yang sangat besar untuk pertumbuhan dan konsolidasi layanan kreatif seperti yang terjadi di Kolombia. Industri sektor budaya bersatu dan proyek-proyek baru terus didirikan di seluruh negeri. Ini merupakan peluang yang signifikan untuk perkembangan ekonomi dan investasi dari perusahaan-perusahaan di seluruh dunia.

Diukur dalam triliunan dolar, jika “Ekonomi Oranye” adalah sebuah negara, ia akan menjadi ekonomi terbesar keempat di Dunia setelah Amerika Serikat, Cina dan Jepang; eksportir terbesar kesembilan; dan angkatan kerja terbesar keempat dengan 144 juta pekerja.

Tantangannya di Indonesia

Sektor ekonomi kreatif di Indonesia meski belum menjadi tumpuan utama, namun masa depan yang lebih baik tidak diragukan . Banyak pelayanan barang dan jasa kreatif kini terus bermunculan, meski begitu sejumlah tantangan harus diselesaikan agar tidak melewatkan kesempatan emas.

Masalah pembajakan dan pelanggaran hak cipta masih menjadi salah satu permasalahan yang mengganggu hak-hak kekayaan intelektual, sehingga merugikan para pelaku usaha ekonomi kreatif. Diperlukan dukungan dari institusi dan komitmen politisi yang tertib untuk membangun iklim yang sehat serta mampu beradaptasi cepat dengan teknologi baru sangat penting dalam membangun ekologi ekonomi oranye.

Dengan mengembangkan “Orange Economy” dimungkinkan untuk menjembatani kesenjangan sosial dan mempertemukan mereka yang kurang beruntung dengan yang memiliki hak istimewa untuk mencapai tujuan bersama, Banyak yang termotivasi untuk menggunakan alat ekonomi oranye untuk integrasi sosial.

Jangan lewatkan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *