Kembali Menu Beranda
Bitter
Patah hati, juga sebab Bill Gates besarkan Microsoft

Patah hati, juga sebab Bill Gates besarkan Microsoft

Ragam
Patah hati, juga sebab Bill Gates besarkan Microsoft

Pagi itu, suasana langit Kota sedang mendung. Mungkin sedang ingin memberi air hujan  Kota ini. Dalam hati berharap agar tidak ada Bencana Banjir ataupun Bencana yang lain. Sudah cukup berita mengenai Ibu Kota yang sedari awal tahun 2020 sudah terkena Banjir.

Matahari mulai terlihat ketika tepat pukul 11.09 WITA. Saya sedang membuka aplikasi Twitter untuk sekedar melihat informasi terbaru. Atapun, meluapkan kata yang tertahan sejak semalam. Namun, mendapati kabar berita yang sedikit menganggu. Berita itu tentang Microsoft resmi menghentikan dukungan untuk Windows 7 pada 14 Januari 2020. Untuk selanjutnya pengguna sistem operasi versi itu tidak akan lagi mendapatkan pembaruan apa pun dari perusahaan tersebut.

Setelah 10 tahun menemani akhirnya berakhir juga. Kami tahu perubahan bisa sulit, jadi kami di sini untuk membantu Anda dengan rekomendasi tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya dan untuk menjawab pertanyaan tentang akhir dukungan,” pesan Microsoft pada laman dukungan Windows, dikutip Selasa.

Akhirnya yang pernah ada untuk membantu pekerjaan, skripsi dan lain hal. Akhirnya pergi. Hanya kenangan  Bersama Windows 7, bagaimana ketika harus update. Kenangan menggunakan Windows tentu tidak mudah untuk dilupakan.

Bagi saya punya kesan yang berbeda. Karena Windows ini adalah OS (Operation System) pertama yang kugunakan untuk laptop yang menghadirkan beberapa karya. Termasuk skripsi yang selesai dengan rentan waktu satu tahun enam bulan. Jadi jika ada kekawan yang menjadi pengguna awal dari Windows, setidaknya saya mengerti apa yang kalian rasakan. Selamat mengenang dan merasakan patah hati. Kehilangan memang menyakitkan.

Perjalanan Microsoft

Hampir seluruh dunia, tentu mengenal Perusahaan Microsoft sebagai pembuat perangkat lunak menurut pendapatannya. Sebuah Perusahaan yang didirikan oleh Bill Gates dan Paul Allen pada tanggal 4 April 1975. Mendengar nama Bill Gates, tentu juga tidak asing bagi kita. Pernah menjadi orang paling kaya di dunia. Bill Gates demi mimpi meninggalkan Harvard University. Mengambil jurusan Hukum di sana. Walau terkenal mahasiswa cerdas, tetapi dikatakan juga memiliki sifat yang menyebalkan.

Pada suatu pagi di musim dingin tahun 1974, dalam perjalanan mengunjungi sahabatnya Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul World’s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models. Artikel ini memuat tentang komputer mikro pertama Altair 9090. Allen kemudian berdiskusi dengan Bill Gates, dan mereka menyadari bahwa era “komputer rumah” akan segera hadir dan meledak, membuat keberadaan software untuk komputer-komputer tersebut sangat dibutuhkan. Bill Gates kemudian menghubungi perusahaan pembuat Altair, yaitu MITS (Micro Instrumentation and Telemetry Systems).Dia mengatakan bahwa dia dan Allen, telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair.

Tentu saja ini adalah bohong. Bahkan mereka sama sekali belum menulis satu baris kode pun. MITS, yang tidak mengetahui hal ini, sangat tertarik pada BASIC. Dan hebatnya dalam waktu 8 minggu BASIC telah siap diimplementasikan dan bekerja sempurna di Altair. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard, dan bersama dengan Paul Allen mendirikan Microsoft. Begitulah mereka memulai Microsoft yang telah menghadirkan Windows 7 untuk kita.

Tentu kisah Bill Gates memiliki banyak pesan yang bisa kita dimaknai, berani mengambil keputusan untuk meninggalkan kuliahnya. Tentu, keputusan itu tidak hanya ambisi seorang Bill Gates semata. Tetapi, ini semua karena Paul Allen dan Bill Gates. Mampu melihat peluang yang ada dengan data dan informasi yang dipunyai. Dengan intuisi menerka perubahan Era.

Mungkin ini analisis yang paling dekat untuk membaca Bill Gates bisa mengambil keputusan dengan tepat. Menggunakan data dan informasi. Apalagi dengan Era informasi yang saat ini sangat cepat didukung akses Internet Of Things (IoT) terhubungnya semua komputer dengan internet. Hanya orang malas yang tidak bisa mendapatkan data dan informasi.

Lanjut, tangguh dengan data

Memasuki Era Revolusi Industri 4.0 ini. Menghadapi masalah yang ada. Tentu tidak boleh menggunakan cara lama. Kita sedikit harus memacu dan melompat lebih jauh. Dimulai dari cara berikir, analisis dan menemukan solusi. Informasi untuk Era ini sangat penting. Bagaimana setiap keputusan dan hal-hal penting membutuhkan data yang akurat. Muncul kata Big Data bagaimana penyedia data, menjadi sangat banyak. Semua ada dalam Search Of Engine seperti Google.

Apa itu big data?

Menarik nampaknya kita memahami betapa pentingnya data untuk hari ini. Bahkan tidak hanya dalam gerak denyut nadi Ekonomi. Tapi untuk Politik, Budaya dan Pendidikan. Kita akan jauh tertinggal, jika menghadapi situasi sulit, mengandalkan ramalan nenek moyang, tentu ini tidak relevan lagi.

Agus Sudibyo (2019) dalam bukunya Jagat Digital, Pembebasan dan Penguasaan membedah bagaimana modus surveillance capitalism bekerja. Apa yang Anda kira sebagai sampah digital adalah serpihan emas yang akumulasinya menjadi bongkahan emas. Itulah yang kita sering sebut sebagai ” big data”.

Para pemilik super platform seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft dan Apple dengan canggih mengelola dan memonetisasinya. Maka, semakin sering Anda terhubung dengan internet, makin banyak sampah digital. Makin besar data terakumulasi, ujungnya makin besar potensi monetisasinya untuk mereka.

Potensi ekonomi digital Indonesia nomor satu di ASEAN. Google memprediksi pertumbuhannya akan mencapai 54 miliar dollar AS pada tahun 2025. Hal itu sangat masuk akal.

Pada tahun 2019, iPrice Group merilis 10 besar e-commerce di Indonesia. Peringkat pertama adalah Tokopedia dengan tingkat kunjungan 140 juta per bulan. Disusul Shopee 90 juta, Bukalapak 89 juta lalu Lazada 49 juta dan Blibli 38 juta kunjungan per bulan. Dengan kunjungan seeksesif itu, maka bisa dibayangkan berapa byte atau petabyte prilaku konsumen yang tercipta.

Lalu sebagai pengguna atau konsumen, apakah kita memperoleh nilai lebih dari penggunaan data tersebut? Tidak. Selain bahwa kita bisa memperoleh  aplikasi secara cuma- cuma (gratis). Sayangnya. Tidak ada sarapan yang gratis, jika bukan kalian yang membeli. Maka data Anda yang mereka beli.

Algoritma data

Suatu waktu salah satu dari kita pernah mencari “Celana” di Google, dan dilain waktu. Ketika kita sedang membuka laman Instagram, akan muncul iklan celana yang mengisi Instagram pribadi kita. Pengiklan itu adalah vendor mandiri atau marketplace.

Sedikit contoh. Setiap hari orang terhubung dengan Internet. Selalu akan meninggalkan jejak digital.
 

Bagaimana itu bekerja? Proses seperti itu terjadi hanya hitungan detik. Bekerja ketika kita menggunakan fitur Browser yang ada pada Ponsel yang kita gunakan setiap hari.

Itulah hasil dari salah satu fitur bernama “cookie

Secara konsensual Anda menyepakati untuk membagi data kepada pihak tertentu yang menghasilkan profil siapa Anda. Lalu cookie mengumpan balik ke pihak lain, dalam hitungan detik/ menit, hasilnya iklan yang pas sesuai dengan profil pribadi Anda. Di dunia periklanan hari ini disebut sebagai online targeted advertising.

Luar biasa bukan proses tersebut. Lalu siapa yang memiliki fitur “cookie” ini. Tentu bukan Anda. Itu bisa disediakan oleh pihak pertama atau ketiga. Suatu kepastian Anda tidak akan memperoleh apapun dari proses ini, padahal mereka telah menyedot data Anda. Yang bisa kita bayangkan sebagai “sampah”

Dengan data yang begitu banyak. Membayangkan sebagai sampah digital. Oleh mereka, dengan menggunakan Artificial Intelligent dan Machine Learning. Sampah dianalisis dengan sedemikian rupa untuk menjadi sebuah  profil prilaku konsumen.

Maka data yang begitu besar ini atau big data yang sudah tersimpan server cloud yang tak terbatas. Memprediksi kebutuhan konsumen, tidak sulit lagi nampaknya. Kapitalisme/Company akan menggunakan ini untuk tidak melakukan kesalahan dalam proses produksi. Maka yang dikatakan Marx tentang Over Produksi tidak akan terjadi. Selamat datang HMI Connection ehhh salah Algorithm Connection.

Kembali soal pemberhentian Windows 7, selama sepuluh tahun adanya OS tersebut. Maka mari membayangkan betapa banyak data yang telah digunakan Microsoft untuk menjadikan Anda sebagai pengguna untuk dijadikan prilaku konsumen bagi mereka. Sepuluh tahun digunakan tentu banyak sekali data yang telah disumbangkan untuk Microsoft.

Seharusnya, kita berhenti menjadi pengunduh, sudah saatnya menjadi pengunggah. Era data untuk menjadi pemenang, dengan menguasai teknologi dan data.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *