Kembali Menu
Gema.id
Prostitusi Online Artis – Saat Bayaran di FTV Tidak Cukup atau Ajang Menaikkan Tarif

Prostitusi Online Artis – Saat Bayaran di FTV Tidak Cukup atau Ajang Menaikkan Tarif

Prostitusi Online Artis – Saat Bayaran di FTV Tidak Cukup atau Ajang Menaikkan Tarif

Gema.ID – “Dan terjadi lagi, Kesalahan yang terulang kembali” Penggalan kalimat tersebut adalah potongan lirik lagi dari Noah yang seolah menjadi kutukan bagi para pelaku Industri Hiburan di Dunia FTV.

Pasalnya beberapa waktu lalu, salah satu artis FTV tanah Air HH yang diduga berat adalah Hana Hanifa tertangkap basah dalam keadaan bugil dengan seorang pria di dalam sebuah kamar hotel di Medan.

Tertangkapnya Hana Hanifa bukanlah kasus pertama yang melibatkan artis FTV di dunia prositusi kelas premium. Pada awal tahun 2019 yang lalu sebelumnya Artis FTV Vannesa Anggel tertangkap basah sedang melayani tamunya di sebuah Hotel di Surabaya tidak lama setelah memasang Feed Instagram “Menjemput Rejeki”.

Tarifnya tidak tanggung-tangung 80 juta rupiah hanya untuk merasakan kehangatan dari wanita yang mulai dikenal publik melalui film-film televisi remaja.

Di tengah Pandemic dan pembatasan sosial baru-baru ini, Hana Hanifa kembali lagi menambah deretan artis FTV yang terlibat aksi asusila bernilai finansial.

Pertanyaanya tentu saja mengapa selalu saja dikaitkan dengan Artis FTV? Tentu saja tidak ada unsur kesengajaan atau keterlibatan Rumah Produksi FTv, tapi percaya atau tidak Lingkungan itu dibentuk oleh perilaku setiap orang yang terlibat di dalam-nya dan setiap perilaku di dalam lingkungan itu adalah bentuk penghuni lingkungannya untuk tetap bertahan hidup.

Secara sederhana mungkin kita bisa membuat silogisme terbalik dengan pernyataan di atas. Artis adalah pekerjaan yang prestisius yang banyak diidamkan oleh banyak orang. Seorang artis yang bermain dalam film akan mendapatkan bayaran tinggi relatif diatas pekerja seni lain seperti kru film dan buruh, jika Hana Hanifa dan Vanessa Angel adalah artis FTV maka mereka akan mendapatkan bayaran tinggi.

Sampai disini mungkin masih sederhana, namun mari kita kembangkan sedikit lagi permasalahannya. Jika Vanessa Angel dan Hana Hanifa mendapatkan bayaran tinggi melalui pekerjaannya yang prestisius maka mereka tidak perlu merendahkan harga diri mereka bekerja sebagai PSK online.

artis seksi dan hot tenktop putih mulus dan toge Hana Hanifa
Hana Hanifa – Artis FTV inisial HH

Namun pada kenyataannya tidak sedikit dari artis FTV yang terlibat dengan dunia gelap, kendati mereka sudah memiliki pekerjaan tetap. Tidak ayal jawaban paling umum diberikan sebagai pembenaran atas perbuatan mereka adalah gaya hidup yang terlalu mewah di kalangan artis.

Hanya saja tentu saja gaya tidaklah cukup kuat menjadi alasan mengapa para wanita cantik dan seksi ini rela menjual diri padahal mereka sudah bisa mendapatkan uang dengan menjual tubuh di depan kamera.

Kecuali ada alasan lain yang mungkin tidak sesuai dengan premis yang diberikan di atas tentang kehidupan artis FTV. Yakni bayaran menjadi seorang artis FTV tidaklah cukup besar namun tetap harus hidup prestisius dengan dunia keartisan.

FTV atau film televisi di Indonesia bukanlah industri kecil yang meskipun pembuatan scenenya terbilang sangat rendah bagi para pecinta Cinematografi di tanah air. Set lighting dan Latar yang apa adanya dengan cerita receh yang dibarengi dengan judul yang sama recehnya juga membuat banyak pihak yang memandang sebelah mata FTV.

Tapi, dalam kenyatannya artis sekelas Revalina S. Temat, Donita, Laudya Cinthya Bella, Gisell Anastasia, Donita, Yuki Kato, Marsha Timoty dan lain-lain adalah deretan nama yang memulai awal karirnya di layar FTV. Sukses di dunia FTV mereka kemudian berhasil menjadi artis papan atas Indonesia di dunia layar lebar.

Meskipun berbajet kecil, namun dunia FTv berhasil menjadi “Gym Center” yang baik bagi para pendatang baru untuk melatih kemampuan lakon para artis ini, sampai akhirnya mereka menjadi salah satu artis yang benar-benar menghasilkan master piece art.

Ada dua implikasi dari peningkatan kualitas dari para artis, yang pertama bayaran mereka semakin tinggi dan tidak cocok lagi dengan bajet pembuatan FTV, implikasi ke dua para rumah produksi ini akan menekan produser untuk menyediakan bintang baru dengan bajet yang sesuai.

Tentu hal ini adalah peluang yang sangat menggiurkan bagi mereka yang belum punya nama dan memiliki cita-cita untuk mengikuti jejak senior mereka di Industri Hiburan. Syukur-syukur jika bisa sekelas Masrha Timothy yang sangat dalam dalam setiap peran yang ia dapatkan, atau bolehlah jadi seperti Tyas Mirasih yang meskipun tidak begitu terkenal di dunia seni peran tapi wajahnya selalu tampak di layar kaca.

Proses ini bisa jadi melibatkan banyak sisi transaksional, misalnya saja jika permintaan FTV semakin meningkat namun talent tak kunjung didapatkan hasilnya para produser ini akan menghubungi rekan mereka untuk melatih talent dan hasilnya menghasilkan lingkungan baru yakni Agency artis pendatang baru.

Agency pendatang baru ini tentu sangat berat untuk mengorbitkan semua talent mereka apalgi jika sisi profesional sudah mulai disingkirkan. You Know me Lah, dunia hiburan positif sangat dekat dan erta dengan hubungan dengan wanita-wanita minim talent namun berbody bohay yang ingin terkenal dengan cara instan.

Mereka-mereka inilah yang tidak begitu memiliki bakat akting yang mumpuni atau etos kerja yang baik namun ngoto terjun di dunia FTV. Tentu saja dengan bayaran tubuh mungkin saja sudah cukup untuk membuat mereka bermain di satu atau dua judul FTV, setelah itu mereka tidak pernah muncul lagi.

Tapi jangan lupa, hilangnya mereka bukannya tanpa apa-apa, tapi sudah dibekali dengan embel-embel artis FTV di belakang mereka. Jadi sepertinya sulit untuk tidak mengatakan jika label Artis FTV bakalan lebih banyak mereka gunakan untuk menaikkan tarif mereka sebelum ada embel-embel.

Lumayanlah yang dari awalnya mungkin hanya 2 juta rupaih se jam kini tembus puluhan juta sekali kencan