Kembali Menu Beranda
Bitter
PSG vs Bayern: Final ‘Superclub’ dengan Narasi Menjengkelkan di Baliknya

PSG vs Bayern: Final ‘Superclub’ dengan Narasi Menjengkelkan di Baliknya

PSG vs Bayern: Final ‘Superclub’ dengan Narasi Menjengkelkan di Baliknya

Gema.id – Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain adalah dua klub kaya dan kuat yang sarat bintang, mendominasi kompetisi domestik mereka dan memiliki kerentanan serupa, pada final Liga Champions edisi kali ini keduanya akan bertemu.

Di tengah kemeriahan dan kemewahan keduanya punya hubungan erat dengan uang Qatar terutama PSG, adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri, meski gelontoran uang yang didapatkan Bayern tak sebanyak di kubu Paris yang hanya bekerjasama untuk sponsor maskapai penerbangan, tetapi hal ini jelas mampu menghidupi keuangan klub.   

Final Liga Champions akan menjadi pertemuan dua ‘superclub’, keduanya memilki cara bermain yang sangat super, baik di atas rumput dan juga urusan di luarnya. Maka tak salah menyebut mereka sebagai superclub di Eropa, sebuah istilah yang digunakan bagi tim-tim yang memenangkan banyak pertandingan, menarik lebih banyak penggemar, punya modal melimpah dan tentu saja menghasilkan lebih banyak uang daripada klub lain.

Keduanya terbiasa mendominasi. Bayern Munchen telah memenangkan trofi ganda domestik musim ini, memenangkan gelar Bundesliga dan DFB Pokal. Paris Saint-Germain telah memenangkan treble domestik, merebut gelar Ligue 1, trofi Coupe de France dan Coupe de Ligue. Keduanya luar biasa dalam penguasaan bola, keduanya menyerang dengan cepat dan mematikan.

Meski keunggulan itu dimiliki, keduanya tidak terbiasa diuji dengan benar dan teratur—terutama di liga domestik—mereka rentan terhadap pertahanan. Maka tak salah menyebut  final ini adalah final “sepakbola modern yang sempurna”.

Penetrasi kapital

Tapi Bayern Munchen dan Paris Saint-Germain tidak sama dari jejak historis. Bayern telah memenangkan lima gelar Piala Eropa/Liga Champions. Telah memenangkan delapan gelar Bundesliga berturut-turut. Sehingga mereka memenangkan lebih banyak gelar Bundesliga daripada yang dikumpulkan oleh semua klub Jerman lainnya. Ini adalah klub yang mewakili kapitalisme murni, dengan kejam mengeksploitasi posisi pasar dominonya, mereka menjarah saingannya untuk mendapatkan pemain terbaik mereka, reaksinya cenderung sedikit lebih dari sekadar pengunduran diri yang melelahkan pada tatanan alami.

PSG, bagaimanapun, mewakili sesuatu yang jauh lebih kejam. Didirikan pada tahun 1970 untuk mencoba memberi ibu kota Prancis sebuah tim untuk bersaing dengan kekuatan Saint-Etienne, Marselille dan Reims, tim diambil alih pada tahun 2011 oleh Investasi Olahraga Qatar. Ini adalah anak perusahaan dari Badan Investasi Qatar, badan yang didirikan oleh negara Qatar pada 2005 untuk mengelola dana kekayaan kedaulatan Emirates.

Tidak kurang dari Manchester City, PSG secara terang-terangan adalah agen kekuatan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mempopulerkan dan meningkatkan citra negara melalui olahraga di mana menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 adalah tujuannya.

Dan citra itu membutuhkan sesuatu yang ekstra untuk ditingkatkan. Stadion yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia seperti sebagian besar proyek kontruksi di negara ini, dibangun dengan menggunakan pekerja migran yang dipaksa bekerja dalam kondisi berbahaya dengan gaji yang rendah, mereka tidak dapat meninggalkan negara karena sistem kafala (sponsor visa). Tuduhan penyiksaan menjadi hal yang biasa.

Di Qatar Homeseksualitas dapat dihukum tiga tahun penjara. Hak-hak perempuan dibatasi. Pers dibatasi. Tidak ada kebebasan berekspresi. Mungkin penggemar PSG tidak peduli siapa yang membayar gaji Neymar, PSG jelas adalah sesuatu yang menyenangkan terlepas dari apapun yang terjadi dengan kekuatan yang menopang di belakangnya.

Bukan berarti Bayern tanpa kesalahan di bidang ini, setelah menandatangani kesepakatan sponsorship besar dengan Qatar Air Ways yang dikelola pemerintah pada 2018 telah mengundang kemarahan dari basis pendukungnya.

Atas tuduhah terjadi banyak pelanggaran hak asasi manusia di negara itu, penggemar Bayern mengambil sikap, menentang klub, mereka menyebut Bayern menutup mata terhadap kondisi pekerja yang mengerikan di negara berdaulat itu saat menerima kesepakatan sponsor, sisi good will dikesampingkan demi kucuran dana yang melimpah.

Qatar Airways menjadi mitra Bayern membawa logo maskapai di lengan jersey nya, menandatangani kontrak lima tahun pada 2018 menggantikan sponsor sebelumnya Doha Airport.

Awalnya, keterlibatan Qatar dengan PSG menyebabkan banyak talenta mahal dan tidak banyak kohesi. Kekuatan bintang mungkin cukup untuk menyingkirkan oposisi domestik. Belum pernah ada treble domestik di Prancis sampai enam tahun lalu. Sejak itu, PSG telah memenangkan empat gelar. Apapun yang menyerupai keseimbangan kompetitif sepakbola Prancis telah dihancurkan sebagai bagian dari kebijakan luar negeri Qatar.

Misi sempurna di akhir musim

Paris Saint-Germain memiliki kecenderungan goyah menghadapi tantangan nyata pertama dihadapinya di Eropa. Hal yang sudah terlihat bahkan di perempat final melawan Atalanta pekan lalu, mereka terlihat tertekan di awal laga.

Untuk mencapai final Liga Champions melawan Borussia Dortmund, Atalanta dan Leipzig –dua yang terakhir tidak pernah memenangkan kejuaraan domestik dan Dortmund belum pernah memenangkan kejuaraan domestik mereka sejak 2012—di babak sistem gugur adalah jalur yang relatif mudah. Tapi bagaimanapun, ada tanda-tanda keterpaduan yang meningkat di bawah manajer Thomas Tuchel.

Tuchel dianggap bukan pelatih kondangan, jelas namanya masih kalah mentereng dengan pelatih top lainnya untuk menangani PSG, di satu sisi marketing, ada pula manuver politik di dalamnya. Tapi sampai ke tahap ini, anggapan tersebut perlahan terkikis.

Skuad yang dibangun kini memperlihatkan ke dalamannya. Di lini tengah Marquinhos, Ander Hererra dan Leandro Paredes yang tidak pernah gegabah telah menyediakan platform untuk tiga penyerang Neymar, Kylan Mbappe dan Angel Di Maria. Nama terakhir sangat bagus setelah lepas dari skorsing, Di Maria menunjukkannya kala melawan RB Leipzig di semifinal.

Apakah itu cukup melawan Bayern Munchen? Tim yang sepanjang musim tampil membahayakan, mereka menyerang dalam gelombang tanpa belas kasihan dan memiliki pemain depan Robert Lewandowski yang telah mencetak 55 gol dalam 46 pertandingan di semua kompetisi musim ini, termasuk setidaknya satu gol di masing-masing sembilan penampilannya di Liga Champions. Thomas Muller bermain secerdas sebelumnya, sementara gol pertama Gnabry di semifinal vs Lyon adalah perpaduan karakteristik antara keberanian, keterampilan dan kecepatan yang luar biasa.

Tapi dalam kemenangan perempat final dan semifinal, Bayern menunjukkan kerentanan pertahanan, tertutama sejak awal. Barcelona mencetak dua gol dan membentur tiang. Lyon membentur tiang dan menyia-nyiakan tiga peluang luar biasa lainnya. Pressing dengan garis tinggi pasti membawa resiko. Peluang bagi lini depan PSG, meskipun akhir-akhir ini Neymar seret gol, tentu ia tidak akan boros seperti Lyon.

Sebuah tim mencari quadruple melawan tim yang mencari treble. Dua sisi menyerang yang tangguh dengan kelemahan pertahanan. Ini adalah kontes superclub yang sempurna. Tapi jangan pernah lupa bahwa salah satu dari mereka adalah klub sepakbola yang sangat kaya, yang lainnya adalah senjata propaganda dari negara yang melanggar hak asasi manusia.