Kembali Menu
Gema.id
RB Leipzig vs PSG: Ketenangan PSG di Panggung Besar Liga Champions Sudah Terlihat

RB Leipzig vs PSG: Ketenangan PSG di Panggung Besar Liga Champions Sudah Terlihat

RB Leipzig vs PSG: Ketenangan PSG di Panggung Besar Liga Champions Sudah Terlihat

Gema.id – Paris Saint-Germain sama sekali tidak bermasalah di semifinal Liga Champions saat berhadapan dengan RB Leipzig setelah bertahun-tahun gagal dan tersingkir di babak sistem gugur. PSG kini berada dalam jarak yang begitu dekat dengan trofi yang diidam-idamkannya setelah penampilan kolektif dan terorganisir.

Apa yang diributkan? Setelah menghabiskan 25 tahun mencoba dan gagal, mereka kembali ke semifinal Liga Champions pertama mereka dengan terlihat tenang. Mereka mendominasi jalannya pertandingan semenjak pelut dibunyikan, mereka memimpin setelah 12 menit dan terus melangkah tanpa memandang ke belakang atas kesalahan mereka di masa silam. Dan, mengakhiri laga dengan skor 3-0.

Setelah semuanya nyaris gagal, runtuh dan berujung frustrasi atas semua uang yang telah dihabiskan sejak dimiliki Qatar tahun2011, akhirnya PSG berada dalam satu pertandingan untuk muncul sebagai pemenang dari kompetisi, jika tidak terhalangi oleh Bayern Munchen atau Lyon di final pada akhir pekan nanti di Estadio da Luz Benfica, Portugal.

Menengok ke masa lalu atas serangkaian kegagalan mereka, PSG menyerupai kumpulan binatang yang mencari konteslasi: banyak bakat tetapi tidak teroganisir. Kini hal itu telah berubah di bawah manajer Thomas Tuchel yang sekali lagi mengawasi; duduk di atas box pendingin, duduk dengan kaki dalam sepatu bot plastik pelindung. 

Lini tengah yang terorganisir jauh lebih fungsional daripada yang biasanya PSG miliki, dengan Ander Hererra dan Leandro Paredes mengapit Marquinhos dan, khususnya di babak pertama, ada tekanan dari tiga penyerang. Sepakan Neymar sudah membentur tiang dan gol Kylan Mbappe dianulir sebelum Marquinhos memaksimalkan umpan Di Maria di menit 12.

Julian Nagelsmanna yang bekerja di bawah Thomas Tucel selama mereka masih di Ausburg, beralih ke empat bek, untuk keamanan defensif, tetapi yang terlihat gaya bermain Leipzig lesu yang biasanya menekan menjadi ciri permainan Leipzig, sesuatu yang kemudian sanggup dimaksimalkan PSG dengan bermain di ruang antar lini.

Baca Juga:  Julian Nagelsmann dan Visi Pelatih Muda yang Tak Terbantahkan

Berulangkali PSG memanfaatkan ruang belakang Dayot Upamecano, jelas dieksekusi dengan sempurna PSG melalui gol kedua mereka, kiper Leipzig Peter Gulasci tendangannya tak menemui rekan saat bermain di area pertahanan, Marquinhos membaca alur bola melakukan umpan ke Neymar, yang mengoper bola degan bagian dalam tumitnya ke Di Maria.

Leipzig yang tidak terlihat bingung melawan Atletico Madrid di perempat final, membuat serangkaian kesalahan individu. Mungkin ini adalah hasil dari pressing PSG, tetapi tampaknya sejumlah pemain juga kehilangan keberanian pada kesempatan besar. 

Sesuatu negatif terlihat saat kematangan di panggung besar dibutuhkan para pemain muda kehilangan momen, hanya Kevin Kampl yang lebih tua dari 26 tahun: tidak banyak pengalaman yang bisa diandalkan.

Baca Juga: Melihat RB Leipzig Bekerja Tanpa Timo Werner

Pada saat yang sama Kylan Mbappe yang kembali dari cedera dan Di Maria kembali dari skorsing, PSG jauh lebih berbahaya di depan daripada pertandingan melawan Atalanta, ketika Neymar tidak mampu mengatur segalanya, Di Maria berjalan efektif untuk diandalkan, dengan dua assist dan satu golnya.

Penampilan yang luar biasa dari Di Maria, jika ada yang menandingi performanya pada malam tersebut selama berkiprah di Liga Champions, mungkin hanya penampilan luar biasanya untuk Real Madrid saat berhadapan dengan Bayern Munchen 2014 di Allianz Arena.

Kemudian Neymar yang meski gagal mencetak gol, pemain Brazil berada dalam kondisi terbaiknya, masuk dari sisi kiri dan mengontrol permainan, lalu menciptakan banyak peluang. Sepakannya membentur tiang di awal laga, gol belum datang dari Neymar dari dua pertandingan terakhir; mungkin dia menyimpannya untuk laga final.

Baca Juga: Memandang Neymar Bukan Sekadar Kepentingan Pasar bagi Paris Saint-Germain

Meskipun setelah unggul di babak pertama dengan dua gol, dan tidak terlihat akan melepaskan pertandingan, sesuatu yang sedikit mengkhawatirkan seusai jeda. Salah satu keraguan atas itu adalah di Ligue 1 Prancis PSG sepertinya tidak pernah tertekan, sesuatu yang kemudian di coba Leipzig sempat beberapakali memunculkan masalah, sesuatu yang terlihat kala berhadapan dengan Atalanta.

Tetapi Leipzig di babak pertama terlihat canggung, mereka mencoba keluar dengan menekan PSG di awal babak keuda, namun sirna setelah Upamecano tergelincir dan Bernat membawa PSG menjauh.

Setelah drama ketenangan di perempat final melawan Atalanta, semuanya anti-klimaks tetapi tidak ada seorang pun di PSG yang akan terganggu dengan itu. Klub ini, kini berada di final untuk pertama kalinya dalam 50 tahun sejarahnya dan dalam jarak yang sangat dekat sesuatu yang terus dikejar semenjak 2011.