Kembali Menu
Gema.id
Sebab-Sebab Perang Dagang dari Takut Melarat hingga Percaya Prasangka

Sebab-Sebab Perang Dagang dari Takut Melarat hingga Percaya Prasangka

Sebab-Sebab Perang Dagang dari Takut Melarat hingga Percaya Prasangka

Pada hari Jumat, 6 Juli 2020, Amerika Serikat melepaskan lagi tembakan, kali ini berbeda dengan lontaran yang dilepaskan kepada negara-negara yang mereka anggap sebagai musuh. Bukan rudal, bukan drone, bukan pula marinir yang diturunkan negara Paman Sam kepada Cina, tetapi sebaliknya, serangan berupa tarif miliaran dolar ditujukan kepada negara tirai bambu.

Tidak cukup dengan itu, serangan lain menyusul; kenaikan tarif, bea dan, pembatasan kuota adalah serangan-serangan yang dilancarkan Amerika Serika kepada Cina. Pembatasan perdagangan menjadi intinya untuk menghambat perekonomian Cina yang sedang meroket.

Cina jelas tidak tinggal diam, mereka kini bukan negara yang bisa dipandang sebelah mata. Cina menjadi salah kekuatan besar ekonomi dunia dengan modal melimpah. Tentunya bukan soal duit saja, sumber daya manusia mereka juga maju begitu pesat. Cina lalu merespon dengan serangan balik ke Amerika dengan cara yang sama.

Dunia memasuki perang jenis baru, perang tanpa gencatan senjata namun efeknya begitu terasa. Perang dagang atau trade war menggambarkan konflik ekonomi dengan melakukan penghambatan perdagangan. Seperti yang terjadi antara Amerika Serikat dan Cina, salah satu yang akan menjadi perang dagang terbesar dalam sejarah dunia, akan diperkirakan berlangsung lama.

James Chen di Investopedia menulis bahwa “Perang dagang dapat dimulai jika satu negara memandang praktik perdagangan negara lain tidak adil. Perang dagang juga merupakan hasil dari kesalahpahaman tentang manfaat luas dari perdagangan bebas.”

Berbeda dengan perdagangan bebas yang memicu persaingan antara negara untuk merebut pangsa pasar, perang dagang disusupi sentimen di dalamnya, bukan hanya menyoal ekonomi semata.

“Isu yang terjadi lebih dari sekadar isu perang dagang, ini adalah ketegangan yang terjadi karena ada sebuah negara yang powernya sedang meningkat sekarang, sebagai rising power berhadapan dengan negara yang kekuatannya sudah established,” kata Ekonom Chatib Basri di Asumsi Bersuara.

Di dalam sejarah sulit untuk dipungkiri sebuah negara yang sudah merasa mapan lalu kemudian muncul negara lain dengan segudang potensi, menjadi kekuatan baru, mereka lalu dianggap ancaman padan yang mapan, maka konflik pun seringkali mencuat.

Empat tahun yang lalu, Donald Trump saat mencalonkan diri menjadi Presiden Amerika Serikat, dengan dagangan politiknya berjanji untuk mengembalikan kedigdayaan Amerika di sektor manufaktur yang beralih ke India dan Cina. Setelah terpilih dia menunjukkan sikap proteksinisnya dan mengancam keluar dari Organisasi Pedagangan Dunia (WTO).

Perang dagang jelas berbeda dari tindakan negara menyikapi kegiatan ekspor dan impor. Dalam ekonomi global, perang perdagangan dapat menjadi sangat merusak konsumen dan bisnis kedua negara, dan penularan dapat tumbuh mempengaruhi banyak aspek di luar ekonomi.

Urusan perut adalah kebutuhan, selama Sapiens masih ada, selama itu persolan ini harus terpecahkan. Itulah sebabnya kenapa umat manusia rela melakukan dan mengorbankan apapun asal mereka kenyang bahkan saling bunuh-bunuhan. Karena itu perang dagang bukanlah cipataan masyarakat modern.

Pertempuran semacam itu telah berlangsung selama negara-negara melakukan perdagangan satu sama lain. Misalnya, kekuatan kolonial berperang satu sama lain untuk memperebutkan hak berdagang secara eksklusif dengan koloni di luar negeri pada abad ke-17.

Pada tahun 1930, Amerika Serikat memberlakukan kenaikkan tarif untuk melindungi petani Amerika dari produk pertanian Eropa. Tindakan ini meningkatkan bea masuk yang sebelumnya sudah besar menjadi hampir 40%. Sebagai tanggapan, beberapa negara membalas dendam terhadap Amerika dengan mengenakan tarif mereka sendiri yang lebih tinggi, dan perdagangan global menurun di seluruh dunia.

Pada awal 2018, Presiden Donald Trump meningkatkan upayanya, terutama terhadap Cina, ia menuding mereka melakukan pencurian kekayaan intelektual dan memberlakukan tarif bea yang tinggi pada produk Cina seperti baja dan produk kedelai. Cina membalas dengan pajak 25% atas lebih dari 100 produk Amerika.

Sepanjang tahun itu, kedua negara terus mengancam satu sama lain dengan merilis daftar tarif yang diusulkan untuk berbagai barang. Pada bulan September, Amerika menerapkan tarif 10%. Meskipun Cina merespon dengan tarifnya sendiri, bea masuk Amerika memang berdampak pada ekonomi Cina, merugikan produsen dan menyebabkan perlambatan.

Gencatan senjata perang tarif berlanjut hingga 2019. Konflik sempat mereda antara keduanya hingga kesepakatan perdagangan tercapai pada Januari 2020. Namun semua kembali berubah, pandemi COVID-19 meningkatkan ancaman lebih, tudingan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut virus ini disebabkan oleh Cina begitu deras: “dasar virus Cina!”