Kembali Menu
Gema.id
Segregationist

Segregationist

Segregationist

Hitler akan selalu dikenang dunia. Seorang yang begitu kukuh menginginkan ‘kemurnian rasial’. Ia berhasil menyakinkan Jerman. Terutama karena keberhasilannya menyingkirkan komunisme. Hitler dipuja, bahkan ketika ia baru mulai merebut kekuasaan. Mungkin hanya sedikit yang menyadari kesalahan itu, tapi terlambat. Hitler telah berkuasa. Dan seperti yang dunia ketahui, jutaan nyawa melayang demi misi memurnikan ras Jerman. Segregasi yang tajam menopang kekuasaannya yang rasis.

Hanya dua tahun. Sebuah periode singkat. Tapi cukup lama bagi warga ras non-arya di Jerman, atau bagi warga Eropa lainnya yang non-Jerman. Terutama bagi Yahudi. Bagi mereka, Hitler bersama Nazi adalah bukti nyata kalau iblis ternyata bisa mewujud dalam bentuk manusia.

Di belahan dunia lain, di tahun 1930an, di Asia bagian Selatan, seorang penyair dan pemikir Islam kesohor bernama Muhammad Iqbal memimpin Liga Muslimin. Ia mengampanyekan sebuah negara yang bercorak dan bernaung di bawah panji Islam. “Pakistan adalah tanah yang murni…” katanya.

Segregasi ditarik ke ranah agama. Makin rumit. Identitas agama, bahkan bisa ditandai tidak hanya (tidak cukup) dengan warna kulit atau jenis rambut. Jubah dan cadar bisa mewakili identitas agama.

Tapi, tak banyak yang bisa menyadari simbol-simbol itu dengan mudah ditiru, direkayasa, dijual, oleh siapapun. Orang-orang yang bercadar, sejatinya tak bisa mewakili apapun, juga agama. Ia hanya pakaian. Malah, ini celah besar bagi seorang spionase untuk menyusup ke kelompok lawan. Beberapa waktu lalu di Sukoharjo, Klaten, Jawa Tengah, seorang yang bercadar ternyata laki-laki diciduk, setelah merangkul beberapa jemaah perempuan lainnya.

Kita tahu, India yang dihuni oleh umat-umat ‘religious’ tak pernah bisa menyudahi serangan-serangan atas nama agama. Di Kashmir, negeri yang tak hentinya diperebutkan-dipertentangkan, orang-orang yang beridentitas muslim dikeroyok oleh mereka yang beridentitas hindu.

Di India agama bisa menjadi alat perang yang paling brutal. Bisa makin pelik ketika hari raya tiba. Terutama di momen Idul Adha. Orang-orang muslim tentu saja mendambakan bisa memenuhi ibadah ber-qorban dengan memotong seekor sapi. Tapi, tetangga mereka yang Hindu, sapi tetaplah binatang suci. Ia adalah kendaraan dewa yang harus dijaga.

Dan Pakistan yang diimpikan Iqbal adalah sisi lain India yang berwajah imprealis. Alih-alih menemukan surga dalam negara agama impian. Orang-orang hidup di bawah terror, mencekam.  

Dua dekade setelah Iqbal, Levinas memberi nafas pada darah dan arah zionis. Ia yakin, bahwa Umat Yahudi sedang berjalan menuju sebuah negeri yang dijanjikan, Israel. Ia menyebutnya, “tangga hidup yang menjangkau ke langit itu.” Mengabaikan bagaimana negara -yang secara lantang ingin dilenyapkan oleh Iran- itu telah merenggut nyawa jutaan nyawa di sebuah tanah, Palestina.

Maka benar kata Derek Walcott, “Sejarah dibangun di atas reruntuhan.” Tapi, sejarah seperti tak pernah belajar pada dirinya sendiri. Betapa kolonialisme telah menghadirkan luka di tubuh kemanusiaan, namun toh akhirnya ia meniginspirasi para revolusioner untuk bangkit melawan.

Dan orang-orang segera tahu, apa yang terjadi setelah revolusi. Tak ada negeri impian. Tak ada keadilan. Orang-orang kembali dibelah, oleh agama, suku, bahasa, juga jumlah uang. Negeri impian, tetap impian.

Lapis segregasi di Indonesia

Di Indonesia, segregasi berlapis-lapis dan meledak-ledak. Upaya pemerintah mengkanalisasi virus segregasi mungkin tak efektif. Narasi radikalisme justru mendapat penentangan, oleh tidak hanya fundamentalis. Para aktivis HAM juga mengecam.

Padahal, sekian rentetan bom bunuh diri, serangan ke polisi, juga keberhasilan skuat Densus 88 mengendus keberadaan para jihadis, menunjukkan kalau Indonesia segregasi mungkin lebih buruk dari India.

Belum usai reaksi protes atas pidato Menteri Agama soal cadar dan celana cingkrang, serangan atas nama agama kembali dipertontonkan di Bantul, Jogjakarta. Atas nama Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Bantul, Yasmuri mengutip pernyataan warga yang mendesak pembubaran ibadah ‘Piodalan’ Hindu (12/11/19).

“Informasi lurah, masyarakat cuma pingin kejelasan mereka itu apa yang dilakukan ?, Upacara itu apa ?, Keagamaan atau kegiatan lain?”

“Warga melihat keanehan dalam upacara doa itu, sebab dilakukan di rumah dan mengundang banyak orang” kata Yasmuri. “Kegiatan itu tidak jelas dan dikuatirkan melahirkan aliran sesat,” sambungnya.

Serangan terhadap agama atas nama agama menunjukkan satu hal yang mungkin tak kuasa kita akui: Indonesia belum bisa melepaskan jerat segregasi. Ada benarnya kata Goenawan Mohamad, “Sebuah negeri selalu berdiri di atas luka di tungkai kaki.” Dan luka itu belum juga pulih. Mungkin itu penyebab kita belum bisa berdiri tegap dan percaya diri.