Kembali Menu
Gema.id
Thomas Muller, Si Penafsir Ruang yang Kembali Memakan Korban

Thomas Muller, Si Penafsir Ruang yang Kembali Memakan Korban

Thomas Muller, Si Penafsir Ruang yang Kembali Memakan Korban

Gema.id –  Kelemahan Barcelona adalah pesta Bayern Munchen. Dan ada satu nama yang paling bersinar di antara bintang lainnya usai kemenangan menakjubkan tersebut. Dia adalah sosok Thomas Muller, pemain berusia 30 tahun itu menjadi mimpi buruk bagi Barcelona, dirinya menjadi aktor utama dalam menyelesaikan tugas tersebut, sesuatu yang sering dia lakukan.

Thomas Muller kali ini hadir sebagai mimpi buruk bagi Lionel Messi, yang ingin merebut Liga Champions lagi, trofi yang belum pernah ia pegang sejak 2015. Messi jatuh dengan menyakitkan, ambisinya sirna setelah diterkam Muller dengan kekalahan yang sulit terlupakan di panggung megah Liga Champions.

Sebelum mimpi buruk dengan skor kekalahan telak 8-2 di Lisbon untuk Barcelona, Muller menjadi mimpi buruk yang telah banyak memakan korban. Mari menarik busur ingatan kembali ke belakang, waktu itu Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, Muller menjadi bintang kemenangan Jerman saat membantai Inggris 4-1 di babak 16 besar. Inggris sendiri bukan tanpa perlawanan, mereka sempat menyalakan harapan untuk mengejar ketertinggalan sebelum Muller membunuh pertandingan dengan menciptakan dua gol, membuat timnya menjauh dan bek Inggris kewalahan mengimbangi serta membaca pergerakannya.  

Baca Juga: Barcelona Berada di ‘Titik Terendah’ Membutuhkan Regenerasi Segera

Dia juga menyingkirkan Barcelona pada semifinal Liga Champions 2012-2013, mencetak tiga gol melawan Barca dalam dua leg dengan kemenangan agregat 7-1. Mengalahkan tim yang hanya dua tahun sebelumnya mencapai keabadian sepakbola di bawah Pep Guardiola.

Sementara pada Piala Dunia 2014 Brazil, Muller mencetak gol melawan negara tuan rumah dengan kemenangan telak lainnya 7-1, setelah hanya setahun sebelumnya Brazil memenangkan Piala Konfederasi dengan kemenangan 3-0 atas Spanyol.

Seolah-olah belum cukup, Muller hampir mencuri kemenangan dari Chelsea di final Liga Champions 2012, mencetak gol dengan tujuh menit tersisa untuk mengirim pertandingan ke perpanjangan waktu; Bayern akhirnya kalah dalam adu penalti tetapi Muller hampir membuat pemilik Chelsea Roma Abrahamovich kehilangan takdir kemenangannya setelah beberapa tahun menunggu dan beberapa juta dolar diinvestasikan demi juara di kompetisi Eropa.

Tapi semua hal ini, baik sebagian atau keseluruhan, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang terkini dilakukan di akhir karir Messi, pada titik di mana pesepakbola terhebat yang pernah dilihat di planet ini, merasakan malam yang paling menyakitkan bersama timnya. Tak berdaya, dibuat hancur lebur.

Muller telah lama menggunakan nama panggilan tertentu—der Raumdeuter, Si Penafsir Ruang , pemain yang menemukan dan memanfaatkan celah dalam pertahanan lawan di mana tidak ada orang lain yang bisa—tetapi mungkin ini saatnya untuk memberinya gelar baru: der Traumgeier, the Dream Vulture, dia yang memupuskan mimipi. Bagaimana dia selalu tahu kapan harus menerkam? Bagaimana instingnya untuk membunuh yang begitu luar biasa?

Dalam sepakbola modern posisi Muller adalah posisi yang tidak pasti. Dia bukan seorang target man, tidak mutlak pula disebut penyerang sayap. Muller lebih sering beroperasi di belakang striker alias menjadi second striker. Reputasi dan nasibnya sangat bergantung pada siapa yang melatihnya. Dia telah menikmati kepercayaan dan dukungan dari Joachim Low, Pep Guardiola, Louis van Gaal, Jupp Heynckes, dan sekarang Flick, dan telah menghadiahi mereka dengan kemewahan. Namun di bawah Niko Kovac dan Carlo Ancelotti dia gagal untuk berkembang, dan sering terlihat menghilang.

Setelah Piala Dunia 2018, dia diberi tahu bahwa dia tidak lagi menjadi bagian dari rencana tim nasional, bahkan setelah mencetak 38 gol untuk timnas dalam 100 pertandingan. Dia tidak pernah menjadi atlet yang paling anggun, tetapi selalu mengancam pada saat ia benar-benar dibutuhkan.

Saat ia tidak dibutuhkan lagi di timnas, Muller kemudian mencetak rekor baru untuk assist di Bundesliga, melampaui pencapaian Kevin De Bruyne. Muller kembali menjadi mimpi buruk bagi Barcelona dan mega bintangnya Lionel Messi, mereka merasakan kecewa mendalam seusai laga di Lisbon.

Muller akan melangkah maju. Satu-satunya pertanyaan kini, siapa yang menjadi korban berikutnya, mimpi siapa lagi yang akan dipupuskan?