Kembali Menu
Gema.id
Untung Bin Syamsuri, Dul Arif dan Noda Hitam di Resimen Tjakrabirawa dalam G30S PKI

Untung Bin Syamsuri, Dul Arif dan Noda Hitam di Resimen Tjakrabirawa dalam G30S PKI

Untung Bin Syamsuri, Dul Arif dan Noda Hitam di Resimen Tjakrabirawa dalam G30S PKI

Gema.ID – Pasca menyatakan kemerdekaan pada masa peralihan dari Jepang ke pihak Pemenang, sekutu sebagai pemenang perang dunia II, Indonesia menjadi salah satu bola panas yang diperubutukan berbagai pihak.

Indonesia menjadi salah satu wadah perang dingin bagi pihak pemenang perang dunia II yang efektif untuk paham liberal-kapitalis Amerika melawan paham sosial-komunis milik Rusia. Hasilnya presiden Soekarno yang dianggap lebih condong ke paham Komunis dengan ideologi Nasakom-nya menjadi ‘target” dari Amerika.

Semasa menjabat sebagai presiden Republik Indonesia, Ir Soekarno mengalami banyak seklai percobaan pembunuhan, salah satu percobaan yang paling menghawatirkan adalah pada saat Hari Raya Idol Adha, 14 Mei 1962 di Halaman Istana Negara.

Presiden Soekarno dan beberapa pejabat negara yang hadir kala itu sedang melaksanakan Sholat Ied namun tiba-tiba terdengar lursan suara tembakan yang berentetan dari seorang pria. Moncong senjata yang diarahkan ke bapak Proklamator tersebut memang gagal membunuh targetnya namun suasan Sholat Idul Adha sontak menjadi kacau balau.

Setelah 16 Tahun merdeka, prosedur pengamanan presiden kala itu memang belum seketat sekarang, negara yang mengalami yang banyak tekana pihak asing hanya bekruta pada masalah kedaulatan, sedangkan presiden adalah jabatan yang masih bagian dari perjuangan yang sewaktu-waktu bisa saja gugur terkena tembakan agen-agen intelejen pihak lawan baik dalam dan luar negeri.

Pasca kejadian tersebut, Jenderal Abdul Haris Nasution selaku Menteri Pertahanan dan Keamanan kemudian mengusulkan pembentukan satu unit pasukan khusus yang bertugas mengawal keselamatan presiden, terutama dari percobaan pembunuhan.

Usulan dari Jenderal AH Nasution tersebut awalnya ditolak oleh Bung Karno, mengingat dirinya sudah memiliki pengawal pribadi yang diberi nama DKP (Datasemen Kawal Pribadi). Soekarno merasa DKP sudah cukup untuk mengawal dirinya dalam melaksanakan tugas kenegaraan, namun hal tersebut dianggap kurang layak oleh AH. Nasution.

Jenderal Nasution pun tidak menyerah dan terus mengusulkan pembentukan pasukan khusus pengawal presiden yang lebih terlatih untuk menjamin keselataman presiden, sampau akhirnya tanggal 6 Juni 1962, Presiden Soekarno menyetujui pembentukan pasukan khusus pengawal presiden.

Sebagai bentuk persetujuan Presiden Soekarno, Pasukan tersebut diberi nama Resimen Tjakrabirawa. Nama ini diambil dari tokoh pewayangan Prabu Krisna. Tidak tanggung-tanggung pasukan ini berisi 3000 personel yang diambil dari orang-orang terbaik dari 4 angkatan bersenjata Indonesia yakni Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian.

Logo Pasukan elit Tjakrabirawa
Lambang Resimen Tjakrabirawa

Resimen Tjakrabirawa

Resimen Tjakrabiarawa ini resmi dibentuk berdasarkan SK Presiden RI pertanggal 6 Juni1962 No. 211/PLT/1962 yang terdiri dari orang-orang terbarik 4 matra. Keseluruahn Matar ini mengirimkan anggota terbaik mereka untuk mengawal pemimpin revolusi Indonesia seperti Batalyon Banteng Rider dari Angkatan Darat, Korps Komando Operasi (KKO) dari Angkatan Laut, Pasukan Gera Tjepat (PGT) dari Angkatan Udara dan Resimen Pelopor dari Kepolisian.

Resimen dibentuk dengan semboyan Dirgayu Satyawira yang berarti pasukan setia berumur panjang.

Resimen ini selanjutnya dibagi ke dalam 4 Batalyon yang ditempatkan di berbagai tempat untuk memudahkan mobilisasi dan komando. Batalyon I dan II ditempatkan di Jakarta sedangkan untuk Batalyon III dan IV ditugaskan menjaga Istana Negara yang ada di Bogor, Cipanas, Yogyakarta dan Tampaksiring.

Anggota dari pasukan kawal presiden ini juga dihadiahi hak-hak istimewa yang pasukan lain tidak dapatkan seperti seragam dan kaus baru yang berbeda dari Matra asal mereka, lalu para Istri Pasukan elit ini diberikan jatah sewa rumah jika mereka tinggal di luar asrama.

Hal ini tentu saja membuat rasa iri para prajurit di kesatuan lain terlebih saat itu negara masih dalam keadaan sulit dimana jatah logistik sangatlah penting dalam kehidupan ekonomi prajurit.

Setiap kali melakukan pengawalan, anggota resimen Tjakrabirawa akan mendapatkan fasilitas kelas satu sama dengan sang presiden seperti tinggal di hotel berbintang dan makan makanan yang mewah jauh berbanding terbalik dengan prajurit di kesatuan masing-masing.

Buruknya kondisi Ekonomi negara yang sedang dalam masa-masa awal kemerdekaan memang sangat terlihat, sebut saja logistik yang Angkatan bersenjata Indonesia dilaur pasukan Tjakrabirawa kala itu hanya mendapatkan jatah sepasang sepatu yang belum tentu akan digantikan tahun depan, begitu pulan dnegan seragam mereka.

Hal ini membuat banyak Tentara yang tidak setiap hari mengenakan seragam militer seperti tentara masa kini, mereka hanya akan mengenakan seragam jika ada operasi militer yang sedang dilaksanakan atau jika sedang upacara.

Berbeda dengan Tjakrabirawa yangdianggap sebagi salah satu imej Presiden, penampilan mereka tentu saja diperhatikan mulai dari pakaian dinas yang lengkap bahkan sampai kaos yang mereka gunakan pun seragam.

Markas Batalyon I Resimen Tjakrabirawan terletak di Jalan Tanah Abang yang kini menjadi menjadi markas Paspampres, lalu Batalyon II berada di Asrama Kwini yang kini ditempati Marinir dari angkatan Laut.

Pada saat pertama kali dibentuk Resimen ini dipimpin oleh seorang Brigadir Jenderal yakni Brigjen Mohammad Sabur, pangkatnya dinaikkan dari Kolonel begitu mendapatkan penugasan menjadi pimpinan Resimen kemudian wakilnya adalah Kolonel Mauwi Saelan, seorang Kiper dan Kapten Timnas Indonesia dari Makassar, Sulawesi Selatan yang juga berkarir di Militer.

Tjakrabirawan dan Pemberontakan PKI

Tahun 1964, Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri yang baru saja mendapatkan Bintang Sakti berkat bakti dan perjuangan dalam Operasi Trikora, diusulkan oleh Panglima Kostrad, Mayjen Soeharto sebagai Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan menggantikan Letkol Eli Abram.

Soekarno Untung Bin Syamsuri di Tjakrabirawa
Letkol Untung, Mayjen Soeharto, dan Presiden Soekarno didepan Pasukan Tjakrabirawa

Batalyon yang dipimpin Letkol Untung memimpin beberapa kompi salah satu-nya adalah Kompi C yang dimpimpinoleh Letna Satu Dul Arif, dia sendiri adalah anak angkat dari Letnan Kolonel Ali Moertopo yang kala itu menjadi wakil Asisten Kostrad yang dimpimpin oleh Mayjen Soeharto.

Letnan Satu Dul Arif merupakan komandan kompi yang memiliki banyak anak buah yang setia kepada dirinya termasuk saat malam terkutuk 30 September 1965. Merek adalah Serma Bungkus dan Peltu Djahurup. Keduanya adalah sahabat lama dari Dul Arif.

Selain dua orang tersebut ada Serda Raswad, Serma Surono Hadiwijono, Serma Satar, Serda Gijadi, dan Kopral Dua Hargiono. Selain merea ada huga Sertu Ishak Bahar yang mendapatkan tugas menjaga daerah Lubang Buaya tempat para pahlawan Revolusi dibunuh dengan biadap.

Beberapa pekan sebelum tanggal 30 September 1965, Letkol Untung yang sudah mendapatkan paham Komunis sejak namanya masih Kusmindar, temakan Isu Dewan Jenderal yang dihembuskan oleh komunis. Isu tersebut berisi rencana pengambilan kekuasaan secara paksa atau Coup de Etat (Kudeta) oleh Angkatan Darat pada hari ulang tahun mereka 5 Oktober.

Isu ini dianggap menjadi tanggung jawab dari Untung yang merasa dirinya adalah pasukan pengawal presiden, Untung yang berpengalaman mengorganisasi prajurit dalam senyap berdasarkan pengalaman operasi Irian akhirnya membentuk upaya melindungi dan mendahului Kudeta Dewan Jenderal.

Hari-hari menjelang 30 September 1965, Letkol Untung memberikan tugas kepada Lettu Dul Arid dan Kompi C untuk melaksanakan operasi yang diberi sandi G30S. Sebagaimana yang kita tahu sasaran mereka adalah Tentara yang memiliki pangkat pucuk di kesatuan Angkatan darat yang tergabung dalam Dewan Jenderal.

“saya dapat perintah dari Komandan Batalyon untuk memberikan briefing dengan misi menggagalkan kudeta Dewan Jenderal,” jelas Dul Arif sebagaimana yang dijelaskan oleh Bungkus saat diwawancarai oleh Ben Anderson dalam Jurnal berjudul The World of Sergeant-Major Bungkus.

Malam 30 September 1965, Kompi C Resimen Tjakrabirawa yang dipimpin oleh Dul Arief dibantu Batalyon 454 dan Birgadir Infantri I Jaya Sakti akhirnya melakukan operasi penculikan oleh Jenderal Angkatan Darat, operasi tersebut nyaris tuntas namun Jenderal AH Nasution, yang mengusulkan pasukan tersebut berdiri, berhasil lolos dari penculikan.

Sebagai gantinya Ajudan Pribadinya Letnan Piere Tendean dan Putrinya Ade Irma Nasution gugur diterjang peluru dari pasukan Tjakrabirawa.

Letnan Untung bin Syamsuri dan Pembubaran Resimen Tjakrabirawa

Setelah gagal membentuk dewan Revolusi Indonesia, sebagaimana yang Untung siarkan melalui stasiun Radio Republik Indonesia (RRI), Untung yang kehilangan arah kemudian menjadi orang yang paling bertanggung jawab atas pembantaian Jenderal Angkatan Darat.

Sempat beberapa pekan melarikan diri, akhirnya Untung berhasil ditangkap lalu dijatuhi hukuman mati tahun berikutnya. Untung pun membawa pergi Resimen Tjakrabirawa ke alam Baka, padahal tidak lebih dari 2% saja anggota dari resimen ini melakukan penghianatan.

Nama Tjakrabirawa menjadi tercoreng oleh nila setitik dari Letkol Untung sehingga masyarakat awam mengasosikan kuat dengan gerakan G30S kendati hanya sebagian kecil saja anggotanya yang terlibat operasi penculikan para Jenderal.

Agar polemik tdiak berkepanjangan, Tanggal 28 Maret 1966, Pasukan Tjakrabirawa dibubarkan setelah proses serah terima tugas pengawalan presiden diserahkan ke Batalyon Polisi Militer Angkatan Darat di Lapangan Markas Besar Direktoran POMAD, Jalan Merdeka Timur, Jakarta.

Beberapa anggota Tjakrabirawa yang terlibat penculikan lantas ditahan, terlebih setelah Supersemar dikeluarkan oleh Presiden Soekarno yang isinya menunjuk Mayjen Soeharto untuk mengambil alih masalah ketertiban dan kemanaan nasional.

Mereka yang terlibat adalah Johannes Surono selaku Komandan Pleton III Kompi C, Norbertus Rohayan selaku eksekutor Jenderal Raden Soeprapto, Simon Petrus Solaiman yang memimpin pasukan penculikan, Satar Suryono selaku Komandan Peletin II Kompi C Batalyon II Kawal Kehoramatan yang memiliki peran menculik Mayjen Suwondo Parman.

Keempat orang ini kemudian dijatuhi hukuman mati berdasarkan sidang Mahmilub. Mereka lalu meminta Grasi dan pengampunan di masa Pemerintahan Presiden Soeharti namun ditolak dan akhirnay dijatuhi hukuman mati.

Sisa-Sisa Resimen Tjakrabirawa

Selain mereka beberapa prajurit lain yang dijatuhi hukuman mati adalah Anastasiun Buang dan Sersan Dua Gijadi Wignho Suhardjo yang bertugas sebagai eksekutir. Kemudian ada Serma Soekardjo yang memimpin penculikan Brigadir Jenderal Donal Izacus Panjaitan. Seokardjo dan Gijadi dieksekusi mati pada Oktober 1988, namun Buang ditemukan meninggal secara misterius pada bulan September 1989.

Dua tahun kemudian, sisa mantan Anggota Tjakrabirawa menghirup udara terakhir sebelum akhirnya dieksekusi mati pada tanggal 16 Februari 1990. Mereka yang terakhir adalah Johannes Surono, Paulus Sata Suryanto, Simon Petrus Solaiman, dan Norbertus Rohayan.

Keempatnya dijemput dari Sel Cipinang lalu dieksekusi mati di hadapan regu tembak untuk menyusul komandan mereka yang telah lebih dulu menghadap ilahi 33 tahun lalu, Letkol Untung bin Syamsuri dan Letnan Satu Dul Arif.