Gema.id
‘Yaumullah’, Rahasia Iran Taklukkan AS

‘Yaumullah’, Rahasia Iran Taklukkan AS

Bagi pembaca media-media mainstream, mungkin masih belum mampu membuat kalkulasi, apakah Iran benar-benar mampu melawah AS. Malah, ada yang sepenuhnya yakin, bahwa serangan rudal-rudal Iran sama sekali tak menimbulkan korban jiwa bagi militer koalisi sekutu. Abaikan yang masih lugu menyebut perang Iran vs AS adalah sandiwara.  

Tapi, perang sudah dimulai. Ekslasinya mungkin yang masih memantik banyak analis, soal bagaimana masa depan AS di Irak, di kawasan Teluk Persia dan secara umum dari Timur Tengah. Dan Dunia harusnya mendukung itu. Terlalu lama dunia menyaksikan AS melegitimasi diri sebagai polisi dunia yang merasa berhak mengatur hidup negara lain.

Baca juga: Perang Iran dan Dunia yang Diam

Iran dengan tegas mendeklarasikan misi perang kali ini adalah mengusir AS dari Irak. Peringatan keras juga dikirim ke negara-negara terutama Israel yang selama ini wilayahnya ditempati pangkalan militer AS. Jika perang berlanjut, mereka harus siap menerima hujan rudal dari Iran dan kelompok-kelompok pejuangnya: Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, Houti di Yaman.

Jumat Keramat

Pasca serangan rudal, dan setelah Iran berhasil melepaskan diri dari jerat konspirasi jatuhnya pesawat komersil Ukraina, euphoria  perang masih berlanjut. Bahkan, di hari Jumat lalu (17/1), warga Iran merespon keputusan perang pemimpinnya dengan cara yang luar biasa; jemaah Slahat Jumat meneriakkan, “Semua lasykar ini datang. Datang membawa cinta… Darah yang mengalir di nadi kami, persembahan untuk pemimpin kami… Hai pemimpin orang-orang merdeka kami siap, kami siap!”

Tunggu dulu, mengapa shalat Jumat Iran begitu luar biasa, tumpah oleh Jemaah hingga ke jalanan raya? Padahal, tetanggaku yakin seyakin-yakinnya, kalau Iran katanya tak melakukan shalat Jumat. Katanya, Jumat di Iran kondisinya lengang. Itu menurut penganut mazhab intoleran, bahwa Syiah tak mewajibkan shalat Jumat.

Lalu, mengapa Iran yang mayoritas Syiah yang sering dituding tidak mewajibkan Shalat Jumat, justru menggelar ibadah mingguan ini dengan spektakuler. Menurut Muchsin Labib, sejak berdirinya Republik Isam Iran, Shalat Jumat diselenggarakan di satu tempat. Setiap kota punya satu imam utama dan beberapa imam cadangan. Di setiap ibukota propinsi, imam Jumat menempati posisi keagamaan yang setara dengan posisi kenegaraan gubernur. Seperti posisi Qadhi bergelar Petta Kalie di Kerajaan Bone periode pra-kemerdekaan. 

Ibadah Shalat Jumat menjadi upacara agung. Jumat keramat. Bahkan sejak itu, setia khotib menggenggam senapan sebagai tongkat. Penampakan itu terlihat di Teheran pada 17 Januari 2020 lalu. Khatib diisi langsung oleh Sang Rahbar penuh charisma, Imam Khemenei. Menurut Muchsin Labib, sejak 2012 kehadirannya memang begitu dinantikan oleh rakyat Iran. Makanya, Jumat kali ini begitu spesial, diumumkan jauh hari. Warga Iran juga Timur Tengah ingin mendengar langsung respon moral dan rasional atas situasi kontemporer yang memanas sejak terbunuhnya Jenderal Qaseem Sulaimani. Dan memang, konten-konten khutbah pertama Jumat di Iran adalah ulasan atau refleksi yang tak lepas dari menanggapi isu-isu nasional maupun internasional.

Seruan Sang Imam yang dirindukan

Selang sesaat setelah Sang Imam naik mimbar. Gemuruh suara Jemaah berseru:  “Semua lasykar ini datang. Datang membawa cinta… Darah yang mengalir di nadi kami, persembahan untuk pemimpin kami.”

Dijawab oleh Sang Imam, “Semoga Allah menjaga kalian. Semoga Allah menganugerahi taufik yang banyak pada kalian.”

Seruan Jemaah kembali menggema:

“Hai pemimpin orang-orang merdeka kami siap, kami siap!”

Lalu, Rahbar memulai khutbahnya dengan mengucap salam. Disertai kalimat pujian, permintaan pertolongan, permohonan ampunan dan bertawakkal kepada-Nya.

Khatib melanjutkan dengan kalimat-kalimat shalawat dan pujian kepada Rasulullah Saw:

“Ucapan shalawat dan taslim kepada kekasih-Nya, pengemban rahasia dan penyampai risalah-Nya. Pemberi kabar gembira nikmat-Nya, dan memberi peringatan atas azab-Nya, junjungan nabi kita semua, Abil Qasim, Musthafa, Muhammad … SAW. Dan kepada keluarganya, yang baik, suci dan terpilih, para pembimbing yang terbimbing, dan shalawat Allah ke para Imam kaum muslimin dan penunjuk kaum tertindas,dan pembela kaum mukminin… “

“Jika kita ingin taufik dan hidayah dari Allah, maka hal itu ada di dalam ketakwaan. Jika kita menginginkan kelapangan dan kemenangan dalam masalah sosial, maka bertakwalah. Kita semua mesti berusaha untuk menjadikan ketakwaan sebagai barometer perbuatan kita. Yang penting dalam Jumat adalah wasiat pada ketakwaan. Dan saya yang hina ini, lebih membutuhkan wasiat seperti ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita semua agar kita mampu menjaga ketakwaan sesuai dengan kemampuan kita.”      

“Yaumillah”

Imam Khemeni di awal khutbahnya mengutip sebuah ayat yang sarat makna dari Surah Ibrahim As. “Dan sungguh, Kami telah mengutus Musa dengan membawa tanda-tanda (kekuasaan) Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya, “Keluarkanlah dari kegelapan kepada cahaya terang-benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah.”

Allah memerintahkan kepada Nabi Musa, agar mengingatkan tentang hari-hari Allah (Yaumillah)

Sang Imam, meneruskan, ada dua kemungkinan untuk makna “ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Kemungkinan makna pertama dari ayat tersebut adalah “Ingatkanlah hari-hari Allah kepada mereka,” yakni “Ingatlah kepada hari-hari Allah.”

Kemungkinan makna kedua: “Ingatkan kepada mereka tentang Allah, agama, dan hari kiamat dengan perantaraan hari-hari Allah Swt.”

Urgensi hari-hari Allah dapat dipahami ketika Nabi Musa as diperintahkan untuk mengingatkan hari-hari Allah kepada masyarakat.

Lanjutan ayat tersebut: “Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.”

Ayyaumullah (hari-hari Allah) adalah tanda-tanda kekuasaan Allah petunjuk jalan untuk dua kelompok manusia, yakni mereka yang memiliki sifat sabar dan syukur.

“Kata sabar berarti orang yang dari ujung kepala sampai ujung kakinya adalah istiqamah dansabar. Kata syukur adalah seorang yang mengenal nikmat, lalu dia mensyukurinya.”

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia menyelematkan kamu dari pengikut-pengikut Firaun; menyelamatkan dari kekuatan tirani nan zalim menjelaskan bagaimana Allah menyelamatkannya. Ini adalah conto hari-hari Allah” Yaitu ketika masyarakat dan kaum-kaum berhasil selamat dari kekuasaan orang-orang zalim.

Juga mengingatkan kita tentang “Taadzana” yaitu sesungguhnya jika mau bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (Nikmat-Ku) maka pasti azabku sangat berat.

“Ayyaumullah itu sangat penting… bagi masyarakat yang penyabar dan istiqamah. Tidak goyah di tengah medan perang. Syukur mengenal nikmat dan dapat melihat dimensi lahiriah dan batiniah segala nikmat. Dia menghargai kenikmatan tersebut dia memahami kadar, bobot dan nilai sebuah nikmat. Dan merasa memiliki tanggungjawab atas nikmat Allah yang diberikan kepadanya.”

Iran yang Islami

Uraian Imam sebenarnya mendeskripsikan bagaimana bangsa Iran adalah sosok yang tangguh yang berhasil melewati ujian perang, namun tetap pandai bersyukur, dengan jalan fokus mengembangkan diri, memperdalam ilmu-pengetahuan, dengan capain teknologi mutakhir. Iran yang dikucilkan dunia, justru tumbuh menjadi bangsa yang kuat.

Imam Khemeni melanjutkan:

“Beberapa hari ini kita menyaksikan itu di Negeri Iran. Satu hari, kita menyaksikan puluhan juta orang di Iran dan ratusan ribu orang di Irak dan sejumlah lainnya menghadiri tasyi’ jenazah Komandan Pasukan Al-Quds IRGC, dimana itu adalah tasyi’ terbesar di dunia. Tidak ada yang menjadi faktor selain kebesaran Allah. Dan pada hari-hari berikutnya kita menyaksikan rudal-rudal Iran menghujani pangkalan-pangkalan militer Amerika. Ini juga merupakan salah satu Yaumullah.”

Lalu menggema teriakan Jemaah

“Allahu Akbar”

“Hidup Rahbar, hancur musuh wilayah alfaqih, hancur Amerika, mampus Inggris, mampus munafikun dan kuffar, mampu Israel.”

“Dua hari tersebut adalah perwujudan Ayyaumullah yang disaksikan sendiri oleh kita, Bangsa Iran yang terhormat. Ini adalah hari titik balik sejarah. hari-hari yang bersejarah. Satu kekuatan, satu bangsa, mempunyai kekuatan keberanian menampar kekautan yang sombong di dunia ini. Ini menunjukkan kekuatan tangan Allah. Oleh karena itu, hari tersebut adalah termasuk Ayyaumullah.

Hari-hari tersebut berlalu, akan tetapi pengaruhnya akan tetap ada dalam kehidupan bangsa – bangsa ini. Pengaruhnya akan kekal dalam ruh, karakter, perjalanan segala bangsa. Dalam pandanga saya, rakyat Iran adalah rakyat yang penyabar dan banyak bersyukur.”

Pencapaian terbaik Iran sesungguhnya bukan pada kemampuan mereka dalam teknologi perang, filsuf, sastra, dan ilmu pengetahuan, bukan pula keberanian mereka secara jantan menyerang pangkalan militer AS. Pencapaian terbaik Iran sebagai negara adalah saat mampu menanamkan nilai-nilai Islam dalam kesehariannya. Kekuatan mereka adalah keyakinan akan kebesaran Allah Swt. Kekuatan spiritual yang kontras dengan perilaku kelompok-kelompok yang mengusung khilafah.    

Iran yakin, sebagaimana seharusnya seluruh umat Islam yakin, bahwa Yaumullah adalah tanda-tanda kebesaran Allah Swt, yang harusnya direfleksikan dengan kesabaran dan semangat persatuan. Shalat Jumat keramat Iran juga menunjukkan satu hal, umat ini bukan serupa buih-buih di lautan yang rentan terpecah.

AS boleh saja masih memiliki koalisi Arab Spring plus Israel, namun Iran punya Yaumullah. ‘Jumat keramat’ itu dengan tegas menunjukkan Iran bukan kaleng-kaleng. Mereka punya kekuatan yang cukup untuk mengusir AS dari Timur Tengah.

Gambar: parstoday.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *